Cemas dengan Lingkungan Laut, Puluhan Seniman Berkolaborasi Gelar ‘Gong Laut’

0
261

REPORTASEBALI.COM – Rasa cemas akan persoalan lingkungan yang dari hari ke hari selalu menjadi isu sentral dalam berbagai forum, membuat beberapa seniman tergerak untuk berbicara melalui karya dan ikut berperan mengatasinya. Pesan-pesan sosial itu disampaikan melalui perhelatan yang disebut ‘Gong Laut’.
 
16 seniman dari berbagai negara terlibat di dalamnya. Forum kesenian ini
menampilkan karya seni kolaborasi yang membawakan pesan-pesan positif kepada masyarakat, sekaligus menjadi sebuah wakeup call untuk melindungi lingkungan.
 
“Salah satu tujuan kami melaksanakan acara ini, untuk
menghubungkan seniman-seniman Indonesia dalam menciptakan sebuah kerja sama yang
berarti di masa depan. Kami memang sudah menjalin kerjasama dengan beberapa institusi
budaya di negara-negara di Eropa mulai dari Jerman, Afrika Selatan hingga Amerika”, terang
representatif divisi Hubungan Internasional Gong Laut.
Dr. Silke Behl di Singaraja, Minggu, 28 Oktober 2018.
 
Gong Laut, digelar mulai 28 Oktober-4 November 2018 di Singaraja, Bali Utara.
Serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan kelautan akan digelar pada acara ini. Puluhan
seniman dari berbagai latar belakang dan negara ini membuat komitmen baru demi
mencapai gol yang meluas secara global.
 
Seniman yang terlibat dalam perhelatan Gong Laut yakni, Afrizal Malna
(Indonesia), Ayu Laksmi (Indonesia), Carolyn Forché (Amerika Serikat), Cok Sawitri (Indonesia),
Di Lu Galay (Myanmar), Flukeminimix (Indonesia), Guy Helminger (Luxembourg), Hagar
Peeters (Belanda), Indra Wussow (Afrika Selatan/Jerman), Made Bayak (Indonesia), Michael
Augustin (Jerman), Samar Gantang (Indonesia), Sujata Bhatt (Jermany/India), Tania Haberland
(Maurisius), dan pembicara khusus Helga Trupel (Belgia/Jerman) yang juga seorang politisi asal Jerman mewakili Partai Hijau.
 
Behl menambahkan, tujuan utama dari acara yang dilaksanakan selama 8 hari ini yakni, untuk menciptakan sebuah
forum seni yang mendiskusikan masalah-masalah lingkungan yang terjadi di dunia dan memotivasi masyarakat demi terciptanya lingkungan yang lebih baik.
 
Kegiatan yang diadakan diantaranya, workshop untuk
menghubungkan berbagai lapisan masyarakat, menciptakan sebuah karya seni kolaborasi yang
membawa pesan lingkungan.
 
“Dalam pengadaan diskusi dan workshop, Universitas
Pendidikan Ganesha juga ikut terlibat dalam pelaksanaan. Visi misi yang diemban universitas ini diyakini menjadi alasan mengapa universitas tersebut mendukung penuh kegiatan Gong
Laut,” tambah Behl.
 
Tema yang diangkat cukup unik, ‘Bagai Menggarami Lautan’. Secara konotatif berarti melakukan sesuatu tidak berguna. (Dyu)