DENPASAR, REPORTASE BALI- Direktur Rumah Sakit (RS) Siloam Bali dr. Putri Mayuni menjelaskan secara detail terkait dengan informasi dan pemberitaan yang menyebut bahwa sudah hampir sepekan unit radiologi RS Siloam bagian CT scan mengalami gangguan besar dan banyak pasien terutama pasien BPJS tidak dilayani dengan baik. “Namanya alat medis pasti ada saja kendala. Namanya juga mesin. Bahkan bukan hanya CT scan. Beberapa alat ada saja kendala,” ujarnya saat dikonfirmasi sejumlah awak media Minggu pagi (28/12/2025). Ia mengaku, faktanya, tidak ada satu RS pun yang alatnya tidak pernah rusak atau batuk. Semua alat itu ada waktunya, ada masa perbaikan dan bahkan pergantian yang baru.
Pihak RS Siloam sudah berkomitmen untuk memberitahukan secara jujur kepada pasien tanpa kecuali. “Kami harus jujur ke pasien. Bahwa ada kendala di alat. Karena kalau dipaksakan nanti hasilnya tidak maksimal, tidak valid, tidak akurat. Kan sayang sekali, dimana pasien sudah kena radiasi tetapi hasilnya tidak maksimal, tidak bisa dibawa oleh dokter,” ujarnya. Sebab CT Scan itu alat yang memiliki radiasi yang cukup tinggi makanya harus dipertimbangkan dengan baik sebelum mengambil keputusan. Sementara untuk alat CT Scan sebenarnya bisa di-subtitude dengan X-ray atau MRI, dimana kedua alat ini juga ada di RS Siloam. Untuk pasien emergensi, berpotensi stroke dan seterusnya maka untuk CT Scan langsung diganti dengan MRI. Setiap keluhan dan penyakit pasti memiliki diagnosis khusus dari dokter yang menanganinya, apakah pakai CT Scan atau langsung ke MRI. Bila pasien tidak emergensi, tidak butuh penanganan cepat maka akan dipertimbangkan dengan CT Scan atau bahkan tidak sama sekali dan ditawarkan untuk dirujuk ke RS lain di sekitarnya. “Ada pasien yang mau dirujuk, tetapi ada yang tidak mau dirujuk, tetap bertahan di RS Siloam,” ujarnya.
Terkait kerusakan alat CT Scan, ia mengaku jika alat tersebut di RS Siloam memang sudah cukup tua dan sudah saatnya diganti. Sekalipun sudah tua, namun preventif maintenance sangat rutin dilakukan untuk menjaga kualitas diagnosis bagi pasien. Saat ini sedang dalam proses pergantian. Kerusakan baru satu Minggu terakhir. “Dalam setahun itu pasti saja ada beberapa hari dalam proses maintenance. Tetapi tidak sampai berbulan bulan. Saya juga heran ada informasi malahan sampai tahun 2026. Ini tidak benar. CT Scan itu alat yang cukup tinggi utilisasinya, hampir 90%. Jadi tidak akan mungkin kita biarkan tetap digunakan kalau sudah rusak. Jadi harus dimaintainance dengan baik,” ujarnya.
Ia mengakui selama alat rusak, memang banyak pasien tidak bisa menggunakannya. Kerugian secara finansial memang ada. Tetapi RS Siloam tidak melihat kerugian tersebut karena kualitas diagnosis, pelayanan dan kesembuhan pasien yang diutamakan. “Yang namanya rugi itu sudah risiko. Tetapi apalah artinya untung tapi merugikan pasien. Jujur kami tidak pernah menghitung untung ruginya, pasien yang diutamakan,” ujarnya. Saat ini sudah dilakukan perbaikan dengan didukung dari Phillips, dan dua tiga hari ke depan ini sudah berfungsi normal kembali.
Mayuni juga membantah bahwa kerusakan alat dijadikan alasan untuk menolak pasien BPJS. RS Siloam sendiri adalah salah satu RS swasta yang menjadi provider BPJS. “Kalau kita pilih-pilih pasien, kenapa kami harus menjadi provider BPJS. Sebab tidak semua RS swasta diwajibkan menjadi provider BPJS. Tetapi RS Siloam ikut menjadi provider BPJS,” ujarnya. Dan sampai saat ini, untuk sementara, RS type B swasta yang menjadi provider BPJS hanya RS Siloam. Pelayanan tidak bedakan. Itu adalah pilihan RS Siloam untuk menjadi provider. Mayuni juga mengaku jika tulisan yang beredar di sejumlah awak media diduga adalah tulisan seorang pasien yang mungkin kecewa saat dilayani namun alatnya tidak bisa digunakan. “Saya apresiasi dan tidak mempersalahkannya, karena begitulah kondisi yang sebenarnya, dan kami harus jujur ke pasien,” tutupnya.

















