Kaum Milenial Penggerak Utama Ekonomi Digital

0
29
Webinar bertajuk "Pemuda Pemudi Digital Bekerja, Berkarya Digital Bali Bangkit" bersama PT Visioner Internasional (OVO), Rabu (4/11/2020).

REPORTASEBALI, DENPASAR – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho berkenan tampil sebagai pembicara dalam Webinar bertajuk “Pemuda Pemudi Digital Bekerja, Berkarya Digital Bali Bangkit” bersama PT Visioner Internasional (OVO), Rabu (4/11/2020).

Hadir juga dalam Webinar tersebut antara lain Karaniya Dharmasaputra, Presiden Direktur PT Visionet International (OVO), Jason Thompson, CEO PT Visionet International (OVO), serta beberapa narasumber dan undangan lainnya.

Dalam pemaparannya, Trisno Nugroho menjelaskan soal kondisi ekonomi Bali di masa Pandemi Covid19. Covid-19 telah menyebabkan perekonomian seluruh daerah mengalami kontraksi yang dalam, hingga Triwulan 2 tahun 2020, seluruh provinsi kecuali Papua dan Papua Barat mencatat pertumbuhan ekonomi negatif.

Begitu pula dengan Bali. Perekonomian Bali sejak Triwulan 1 hingga Triwulan 2 tahun 2020 terus mengalami kontraksi yang semakin dalam. Tercatat pada Triwulan 2 perekonomian Bali terkontraksi hingga -10,98% (yoy) akibat turunnya kinerja pariwisata.

“Oleh sebab itu, diperlukan upaya untuk mengembalikan kinerja perekonomian kembali dengan mendorong mobilitas konsumsi masyarakat melalui transformasi UMKM berbasis digital sebagai penopang ekonomi di era new normal,” ujarnya.

Trisno Nugroho menggarisbawahi bahwa konteks kekinian, pertumbuhan ekonomi dunia dan terutama Indonesia termasuk Bali sudah mulai mengarah kepada teknologi digital atau ekonomi digital. Di Indonesia sendiri digitalisasi sangat erat kaitannya dengan pemuda pemudi kaum milenial.

Sebut saja berbagai e-commerce lokal hingga mancanegara, aplikasi sosial media, aplikasi jasa pembayaran, aplikasi ticketing, aplikasi hiburan, aplikasi logistik, investasi, aplikasi virtual meeting hingga aplikasi jual beli barang digital lainnya sudah sangat melekat di kalangan pemuda pemudi Indonesia saat ini. Penggunaannya pun terus meningkat, terutama di masa pandemi Covid-19 dimana seluruh pihak berubah menjadi digital demi menjaga social distancing dan physical distancing.

Di Indonesia, potensi digitalisasi sangatlah tinggi bahkan sebelum pandemi Covid-19 terjadi. Indonesia adalah pasar besar dan potensial untuk menyerap arus digitalisasi karena dengan populasi 269 juta penduduk, jumlah generasi milenial (Gen Y) dengan rentang usia 22 sampai 35 tahun mencapi 108 juta jiwa.

Selain itu besarnya digital gap Indonesia dibandingkan dengan negara mitra juga menunjukkan peluang pasar yang besar. Saat ini penetrasi jumlah pelanggan seluler di Indonesia mencapai 124 % (338,2 juta) dengan pengguna internet mencapai 175,4 juta dan pengguna aktif sosial media mencapai 160 juta orang.

Dengan adanya pandemi Covid-19 maka momen transformasi digital semakin tidak terbendung dan tidak terhindarkan. Di tengah turunnya kinerja ekonomi, pergeseran interaksi antar manusia yang mengedepankan faktor cleanliness, healthy and safety, justru mempercepat integrasi ekonomi berbasis digital di Indonesia secara luas.

Penelitian yang dilakukan Sea Insights SEA Group pada Juni 2020 menunjukkan bahwa 72% pemuda pemudi usia 16 sd 35 tahun di kawasan ASEAN yang mampu bertahan dan beradaptasi selama Covid-19 dikarenakan mereka mampu membangun kesiap siagaan, mengambil keterampilan baru, belajar berpikir kreatif serta mampu menciptakan sumber pendapatan baru dengan memanfaatkan penggunaan teknologi digital.

Di mana peran kaum Milenial di era digital. Menurut Trisno, kaum Milenial saat ini harus menjadi penggerak utama ekonomi digital. “Untuk itu, tema Webinar ini sangat relevan dengan kondisi ekonomi saat ini dimana pemuda pemudi sebagai motor penggerak kebangkitan ekonomi harus bersatu dan bangkit agar mampu beradaptasi dengan tatanan hidup baru serta mampu menciptakan inovasi-inovasi khususnya yang berbasis digital,” ujarnya.

Transformasi digital menjadi cara bertahan melalui masa pandemi Covid-19 dan digitalisasi menjadi suatu kebutuhan bagi UMKM. Para entrepreuners yang akan bertahan adalah mereka yang semakin meningkatkan penggunaan digitalisasi dalam bisnisnya. Penelitian dari Sea Insights menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata UMKM di Indonesia yang mengadopsi e-commerce meningkat lebih dari 160% dengan peningkatan produktivitas mencapai 110%.

Dimana pada masa pandemi ini, 45% pelaku usaha muda berjualan lebih aktif di platform e-commerce dan 1 dari 5 adalah pengguna baru e-commerce serta lebih dari 60% mengatakan bahwa mereka akan secara permanen meningkatkan penggunaan platform digital dalam bisnisnya.

Penggunaan platform digital oleh pelaku usaha dan masyarakat pengguna di tengah pandemi membantu ekonomi tetap berputar serta membantu percepatan transformasi ekonomi dan keuangan digital Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan program pemerintah dalam membantu UMKM melewati pandemi Covid-19 melalui program bangga buatan indonesia serta edukasi on-boarding UMKM agar mampu mengoptimalkan penggunaan digitalisasi.