DENPASAR, REPORTASE BALI- Kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali di Pulau Serangan, Denpasar, membawa dampak positif bagi masyarakat lokal. Proyek strategis pariwisata dan ekonomi kreatif ini diprediksi mampu menyerap hingga 90 ribu tenaga kerja langsung dan tidak langsung hingga tahun 2052, namun bagi warga Serangan, angka bukanlah hal utama yang terasa adalah perubahan di kehidupan sehari-hari.
Salah satu pemuda Desa Serangan, I Wayan Adi Saputra, mengaku awalnya tidak banyak mengikuti perkembangan proyek tersebut. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia melihat semakin banyak warga lokal yang diterima bekerja di dalam kawasan. “Banyak warga diterima sebagai tenaga kebun dan keamanan. Hampir ratusan orang, dari yang muda sampai yang tua,” ujarnya kepada media belum lama ini.
Menurut Wayan Adi, hadirnya lapangan pekerjaan ini berdampak langsung pada perputaran ekonomi di wilayah Serangan. Keluarga yang sebelumnya kesulitan kini memiliki penghasilan tetap dari berbagai posisi setelah bekerja di KEK Kura Kura Bali.
Harmoni BTID dan Warga Desa Serangan
Wayan Adi juga memberikan apresiasi terhadap visi dan komitmen BTID Kura Kura Bali, selaku pengelola kawasan, yang dinilainya sangat menghormati budaya lokal dan menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat. “BTID maju, Desa Serangan juga maju. Keduanya harus berjalan selaras. Itu visi misi BTID bersama warga di desa ini,” katanya.
la menambahkan, BTID juga menerapkan seleksi ketat terhadap setiap calon investor, baik domestik maupun asing. “Saya dengar, investor yang masuk ke BTID harus memiliki visi Tri Hita Karana. Kalau tidak sesuai, mereka tidak diterima,” ungkapnya.
Dukungan untuk Budaya dan Tradisi Lokal
Selain menyerap tenaga kerja lokal, BTID juga aktif mendukung kegiatan budaya, seni, dan keagamaan di Pulau Serangan.
“Kura Kura Bali selalu membantu pembinaan, konsumsi, dan berbagai kebutuhan masyarakat serta pemuda, terutama saat hari raya Nyepi, pembuatan ogoh-ogoh, termasuk saat Galungan dan Kuningan,” jelasnya.
Kehadiran KEK Kura Kura Bali terbukti bukan hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga memperkuat hubungan sosial-budaya dengan masyarakat lokal Bali, sehingga keharmonian ekonomi dan tradisi dapat berjalan berdampingan hingga selamanya.

















