DENPASAR, REPORTASE BALI- Sebanyak 6 Banjar di Desa Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan menggelar safari Ogoh-Ogoh menjelang hari raya Nyepi. Safari Ogoh-Ogoh ini didukung langsung oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID). Hal ini dilakukan untuk kembali memperkuat jalinan silaturahmi dengan masyarakat Desa Serangan melalui kegiatan “Safari Ogoh-Ogoh” menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Menyadari betapa krusialnya menjaga akar budaya di tengah modernitas, BTID memberikan dukungannya dengan menyambangi enam banjar dan memberikan dana apresiasi atas mahakarya seni para pemuda-pemudi setiap Banjar yang ada.
Bagi masyarakat Bali khususnya Desa Serangan, tradisi Ogoh-ogoh bukan sekadar parade seni tahunan, melainkan simbol penting dalam menetralisir kekuatan negatif (Bhuta Kala) demi menjaga keseimbangan alam semesta, sebelum memasuki keheningan Nyepi. Lebih dari itu, proses pembuatan Ogoh-ogoh di Balai Banjar menjadi
ruang bagi Sekaa Truna-Truni (STT) atau pemuda-pemudi untuk merawat semangat gotong royong, tradisi, dan kreativitas lintas generasi.
Safari Ogoh-Ogoh dilakukan di enam banjar, dimulai dari Banjar Kawan, dilanjutkan ke Banjar Peken, Kaja, Pongjok, Tengah, dan diakhiri di Banjar Dukuh. Di balik kemegahan wujudnya, Ogoh-ogoh kini telah bertransformasi menjadi karya seni kompleks yang membawa pesan sosial dan edukasi. Seperti yang terlihat di Banjar Kawan, dimana STT setempa mempersembahkan Ogoh-ogoh bernama “Bhagawan Samirana”.
“Tahun ini kami ingin tampil sedikit berbeda. Ogoh-ogoh tidak semata menggambarkan Bhuta Kala, tapi ada unsur estetika dan pesan kebaikan di dalamnya,” ujar I Wayan Adi
Saputra, Ketua STT Satya Witra Banjar Kawan. Ia juga menambahkan bahwa material yang digunakan untuk membuat Ogoh-ogoh tersebut cukup ramah lingkungan, seperti kertas dan koran bekas.
I Wayan Adi Saputra juga turut mengungkapkan apresiasinya atas dukungan BTID dalam merawat tradisi kebudayaan dan keagamaan di Serangan. “Ya, positif ya. Terima kasih
juga untuk BTID Kura Kura Bali yang selalu mendukung kegiatan kita apapun di pemuda, seperti penjor dan ogoh-ogoh ini. Jadinya dengan adanya apresiasi dari BTID ini kita bisa menghasilkan karya,” ujarnya.
Semangat serupa terlihat di Banjar Pongjok dan Banjar Tengah, para pemuda tidak hanya fokus pada visual Ogoh-ogoh, tetapi juga mempersiapkan tarian dan gamelan. Godem, salah satu penari dari STT Satya Budhi menjelaskan bahwa persiapan tarian telah dilakukan sejak Februari. “Karena kita mengedepankan semangat gotong royong, jadi tarian ini juga melibatkan
pelajar dari berbagai rentang usia dari SD, SMP, SMA hingga mahasiswa seperti saya. Latihan untuk tarian ini sudah kita lakukan sejak Februari,” ujar Godem.
Godem melanjutkan, kolaborasi dengan BTID ini sangat bagus, karena sebagai
pemuda-pemudi sangat terbantu dengan adanya dana apresiasi ini. Sehingga regenerasi pelestarian kebudayaannya bisa terus berlanjut. Hal senada juga disampaikan Kadek Noni Purnama Dewi, Ketua Satya Hredhaya dari Banjar Dukuh. Ia menyebutkan kolaborasi antara BTID dengan banjarnya tersebut
membantu memaksimalkan kreativitas pemuda-pemudi.
Di kesempatan terpisah, Kepala Komunikasi BTID Zefri Alfaruqy mengatakan, kegiatan Safari Ogoh-Ogoh ini bukan hanya agenda rutin, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal Desa Serangan. “Kami senang sekali melihat antusiasme para pemuda yang mampu menyatukan kreativitas seni dengan nilai-nilai keberlanjutan melalui penggunaan material ramah lingkungan.” ujarnya.
Zefri menambahkan bahwa BTID berkomitmen untuk terus berjalan berdampingan dengan masyarakat dalam menjaga identitas budaya Bali. “Dukungan ini diharapkan dapat menjadi stimulan bagi Sekaa Truna-Truni (STT) untuk terus berkarya. Kami percaya bahwa harmoni antara pengembangan kawasan ekonomi dengan pelestarian tradisi adalah kunci bagi kemajuan bersama di masa depan,” pungkasnya.
















