​Hasil Otopsi, WNA Asal Australia Dipastikan Bunuh Diri, Imigrasi Pastikan Toilet Aman dari Spot Bunuh Diri

0
4

DENPASAR, REPORTASE BALI- Polresta Denpasar merilis resmi hasil otopsi WNA asal Australia berinisial CJMH (39) yang meninggal di rumah detensi Imigrasi di Kantor Imigrasi Ngurah Rai pekan lalu. Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Leonardo David Simatupang bersama Kepala Kantor Imigrasi Ngurah Rai Bugie Kurniawan memberikan keterangan kepada awal media di Mapolresta Denpasar, Kamis (16/7/2026). Penjelasan kepada awak media ini mengurai misteri kematian CJMH setelah dibawa ke RS Jimbaran dan dinyatakan meninggal dalam perjalanan ke RS.

Menurut Kepala Kantor Imigrasi Ngurah Rai Bali Bugie Kurniawan, fasilitas ruang tahanan khusus deteni bagi WNA telah dibangun sesuai dengan standar keamanan dan aturan yang berlaku. Langkah antisipasi ketat telah diterapkan untuk meminimalkan segala potensi bahaya di dalam ruang tahanan. Di seluruh ruangan dipasang CCTV. “Namun untuk di kamar mandi dan toilet memang tidak ada CCTV untuk menjaga privasi para deteni,” ujarnya. Korban diketahui berprofesi sebagai pengusaha bengkel di Jimbaran. Korban ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri dengan lilitan leher di toilet Ruang Deteni Imigrasi Ngurah Rai pada Jumat 10 Juli 2026 lalu sekira pukul 20.00 Wita.

​Menurut Bugie Kurniawan, desain ruang tahanan dirancang sedemikian rupa guna menghilangkan fasilitas yang bisa disalahgunakan untuk tindakan membahayakan diri sendiri atau bunuh diri. Misalnya seluruh ruangan itu tanpa
teralis gantung. Ruangan dibuat bersih dari struktur teralis atau celah yang bisa digunakan untuk menggantung diri. Selain itu, pengawasan CCTV dilakukan secara kontinu. Seluruh sudut ruangan dipantau kamera pengawas, kecuali area kamar mandi demi menghormati privasi tahanan. Hampir setiap saat petugas Imigrasi melakukan kontrol rutin untuk memastikan kondisi deteni. ​”Kami berupaya menghilangkan segala potensi yang bisa digunakan oleh seseorang (untuk bunuh diri). Ruangan juga dibuat agar bisa dikontrol penuh oleh petugas tanpa ada blind spot yang tidak terdeteksi,” ujar Bugie Kurniawan. Berkat sistem keamanan ini, petugas sempat mendeteksi gerak-gerik mencurigakan dan langsung mengirim personel untuk mengecek ke dalam ruangan saat korban mencoba melakukan aksi tersebut. Namun nyawanya tidak tertolong.

​Kapolresta Denpasar, Kombes Pol Leonardo David Simatupang, menegaskan bahwa berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau pun keterlibatan pihak luar.
​Rekaman CCTV menunjukkan korban berada di dalam toilet ruang deteni selama 30 menit tanpa ada orang lain yang keluar atau masuk ke area tersebut. ​”Tidak ada orang keluar masuk, tidak ada unsur kelalaian. Kami sudah melakukan otopsi dan hasilnya menunjukkan yang bersangkutan benar murni bunuh diri,” tegas Kapolresta Denpasar.

​Dokter Spesialis Forensik dan Medikolegal RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, dr. Ida Bagus Putu Alit, Sp.FM., Subsp.F.K.(K), DFM, memberikan penjelasan rinci mengenai hasil otopsi korban yang diterima pada tanggal 13 Juli 2026. Pemeriksaan luar dilakukan padab pukul 21.10 WITA dan tidak ditemukan luka-luka fatal. Terdapat luka memar dan lecet di area pergelangan tangan serta punggung tangan dan tidak ada tanda kasat mata di bagian leher pada pemeriksaan awal.

Sementara untuk pemeriksaan bagian dalam atau otopsi digelar pada pukul 21.25 WITA. Pemeriksaan diawali dengan prosedur khusus pembersihan darah di area leher. Tim forensik menemukan adanya resapan darah pada kulit leher serta kelenjar gondok yang mengindikasikan adanya bekas jeratan.
Diduga kuat berasal dari benda yang lembut seperti kain. Penekanan ini memanfaatkan berat kepala minimal 2,5 kg yang memicu pembendungan pembuluh darah balik. “Selain itu, ditemukan perdarahan di ruang subaraknoid (di bawah selaput lunak otak) yang memicu kematian dan tanda-tanda mati lemas (asfiksia),” ujarnya.

Tim medis juga mendeteksi jika korban memiliki komorbiditas (Penyakit Bawaan). Korban diketahui memiliki kelainan jantung, di mana ukuran jantungnya lebih besar dari normal serta ditemukan pengerasan pada pembuluh darah. ​”Penyebab kematian yang dapat dipertimbangkan adalah adanya penekanan pada leher yang menyebabkan perdarahan di bawah selaput lunak otak dan mati lemas, yang dipicu kematiannya oleh kelainan jantung yang ada,” terang dr. IB Putu Alit. Saat ini, sampel organ jantung korban masih menjalani pemeriksaan patologi anatomi lebih lanjut.