
DENPASAR, REPORTASEBALI.ID – Di tengah meningkatnya kasus gangguan irama jantung di kawasan Asia, Institut Jantung Negara (IJN) Malaysia mengambil langkah strategis dengan mengadopsi teknologi ablasi generasi terbaru.
Rumah sakit ini menjadi yang pertama di Asia yang secara klinis memanfaatkan sistem Affera Prism-2 System untuk penanganan fibrilasi atrium (AFib).
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya memperluas akses pasien terhadap terapi jantung berteknologi tinggi tanpa harus berobat ke luar negeri.
Fibrilasi atrium merupakan gangguan irama jantung paling umum di dunia. Kondisi ini terjadi ketika serambi jantung berdetak tidak teratur, sehingga aliran darah menjadi tidak optimal. Jika tidak ditangani dengan baik, AFib dapat meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, hingga kematian dini.
Integrasi Pemetaan dan Terapi dalam Satu Sistem
Sistem yang digunakan IJN mengintegrasikan pemetaan jantung tiga dimensi dengan teknologi ablasi energi ganda dalam satu platform. Melalui dukungan kateter Sphere-9 Catheter, dokter dapat melakukan pemetaan sekaligus terapi dalam satu perangkat.
Keunggulan utama teknologi ini terletak pada kemampuannya menghantarkan dua jenis energi, yakni radiofrekuensi (termal) dan pulsed field ablation (non-termal). Fleksibilitas tersebut memungkinkan dokter menyesuaikan pendekatan terapi sesuai kondisi anatomi dan kebutuhan klinis pasien.

Direktur Utama IJN, Prof. Dato’ Sri Dr. Mohamed Ezani Md Taib, menyatakan bahwa adopsi sistem ini mencerminkan komitmen institusinya dalam menghadirkan inovasi yang telah tervalidasi secara klinis.
Menurut dia, pasien dengan kasus aritmia kompleks kini memiliki pilihan terapi yang lebih presisi dan aman di dalam negeri.
Sudah Tangani 11 Pasien
Penggunaan klinis platform ini diawali melalui lokakarya terstruktur. Pada tahap awal, lima pasien dengan fibrilasi atrium persisten berhasil menjalani prosedur ablasi. Hingga saat ini, total 11 pasien telah ditangani menggunakan sistem tersebut.
Dalam uji klinis internasional yang melibatkan lebih dari 400 pasien, tingkat efektivitas terapi mencapai 74 persen. Angka tersebut meningkat hingga 80 persen setelah operator melewati fase pembelajaran awal. Sementara itu, tingkat kejadian keselamatan utama tercatat sebesar 1,4 persen pada populasi pasien kompleks, tanpa laporan komplikasi besar.
Datuk Dr. Azlan Hussin, Konsultan Kardiologi Senior IJN, menjelaskan bahwa fibrilasi atrium bersifat progresif dan sering kali semakin sulit ditangani seiring waktu.
Ia menilai integrasi pemetaan canggih dan ablasi energi ganda membuka peluang pendekatan terapi yang lebih personal, sekaligus meningkatkan luaran klinis pasien.
Dengan implementasi teknologi ini, IJN mempertegas posisinya sebagai pusat rujukan regional dalam bidang elektrofisiologi dan tata laksana gangguan irama jantung tingkat lanjut di Asia.
Di tengah kebutuhan akan terapi kardiovaskular yang semakin kompleks, inovasi berbasis bukti klinis menjadi kunci untuk meningkatkan keselamatan sekaligus kualitas hidup pasien.
















