DENPASAR, REPORTASE BALI- Sisa aktivitas rumah tangga yang biasanya menumpuk di tempat pembuangan kini memiliki nilai baru di tangan kaum perempuan Desa Ubung Kaja, Denpasar. Melalui sentuhan kreativitas, sampah dapur organik diolah menjadi nutrisi cair yang ampuh memacu pertumbuhan tanaman anggrek sekaligus menekan biaya perawatan secara signifikan.
Langkah inovatif ini menjadi inti dari program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) Werdiguna. Akademisi Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa, Ir. Made Sri Yuliartini, M.Si., menekankan bahwa kemandirian pupuk di tingkat keluarga adalah kunci pertanian perkotaan yang berkelanjutan.
“Sampah dapur seperti sisa sayuran, kulit buah, hingga air cucian beras mengandung unsur hara mikro dan makro yang sangat dibutuhkan tanaman hias, terutama anggrek yang membutuhkan asupan nutrisi secara rutin,” ujar Sri Yuliartini saat ditemui di lokasi kegiatan, Kamis (14/5/2026).
Proses pengolahan sampah ini dilakukan melalui fermentasi sederhana menggunakan mikroorganisme lokal. Hasilnya adalah pupuk organik cair yang kaya akan nitrogen dan kalium. Penggunaan nutrisi hasil olahan sendiri ini terbukti mampu memangkas anggaran pembelian pupuk kimia hingga lebih dari 60 persen.
Budidaya anggrek selama ini sering dianggap sebagai hobi yang mahal karena ketergantungan pada pupuk pabrikan. Kehadiran teknik pengolahan sampah ini mematahkan anggapan tersebut. Para ibu rumah tangga kini dapat merawat tanaman hias mereka dengan kualitas profesional tanpa harus mengeluarkan biaya ekstra.
“Tantangan utama di wilayah perkotaan seperti Denpasar adalah keterbatasan lahan dan besarnya volume sampah organik. Strategi ini menyelesaikan dua persoalan sekaligus: mengurangi timbulan sampah dari sumbernya dan menyediakan nutrisi tanaman secara mandiri,” tambah Sri Yuliartini.
Penerapan teknologi tepat guna ini diharapkan tidak hanya berhenti pada skala hobi. Tanaman anggrek yang dirawat dengan nutrisi organik memiliki daya tahan dan kualitas yang kompetitif di pasar tanaman hias. Pola ini menciptakan ekosistem ekonomi hijau yang dimulai dari dapur rumah tangga, tempat sampah tidak lagi dianggap sebagai kotoran, melainkan aset yang mempercantik lingkungan sekaligus meringankan pengeluaran keluarga.
Ketua KWT Werdiguna, Ni Luh Putu Sri Gunawati, menyambut baik transformasi tata kelola sampah di lingkungannya. Menurutnya, edukasi ini memberikan solusi nyata bagi para ibu rumah tangga yang ingin menyalurkan hobi tanpa terbebani biaya tinggi.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kegiatan pengabdian mengenai pembuatan pupuk organik cair dari sampah dapur serta ilmu perawatan tanaman anggrek ini. Kegiatan ini sangat bermanfaat karena menambah pengetahuan dan keterampilan anggota dalam memanfaatkan sampah rumah tangga menjadi pupuk organik yang ramah lingkungan dan ekonomis, sekaligus memahami cara merawat anggrek dengan baik,” ungkap Sri Gunawati.
Ia juga berharap keterampilan yang telah diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh seluruh anggota kelompok. Kerja sama ini diharapkan terus berjalan ke depannya untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi keluarga berbasis lingkungan.
Budidaya anggrek selama ini sering dianggap sebagai hobi yang mahal karena ketergantungan pada pupuk pabrikan. Kehadiran teknik pengolahan sampah ini mematahkan anggapan tersebut. Para ibu rumah tangga kini dapat merawat tanaman hias mereka dengan kualitas profesional tanpa harus mengeluarkan biaya ekstra.



















