DENPASAR, REPORTASE BALI- Kapolresta Denpasar Kombes Pol. I Wayan Winaya punya style kepemimpinan yang berbeda dalam sejarah Polresta Denpasar. Kali ini, pria asli Gianyar yang dibesarkan di Sanur Bali ini punya gaya unik. Pria yang sebelumnya pernah bertugas di Lombok ini bisa bergaul dengan siapa saja. Winaya pernah ngobrol dengan para sopir, pernah ngopi santai di pinggir jalan sambil serap aspirasi masyarakat. Beberapa moment, Winaya pernah duduk di trotoar ngobrol santai dengan para pemain catur di pinggir Lapangan Puputan Badung. Dan banyak moment nyentrik lainnya yang menunjukkan jika Winaya bisa adaptasi dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja.
Terakhir pada Sabtu sore (31/10/2026), Kombes Pol Winaya terekam sedang ngobrol santai sambil ngopi di sebuah warung kecil di kawasan Renon Denpasar. Tidak ada pengawalan. Tidak ada protokoler. Hanya sopir dan beberapa anggota dalam pakaian sipil yang menemani pria yang sepanjang karirnya lebih banyak bertugas di Pulau Jawa ini. Saat itu kebetulan di lokasi banyak awak media dari Ikatan Wartawan Online Provinsi Bali. Duduk santai di bangku panjang tanpa sandaran, makan pisang goreng seperti biasa. Banyak topik diskusi ngalor ngidul namun sangat berarti bagi Bali dalam bidang Kamtibmas.
Kepada seluruh peserta diskusi di warung kopi tersebut Winaya secara lugas menyampaikan, di Bali itu sangat rawan. Bali umumnya dan Denpasar khususnya di wilayah hukum yang dipimpinnya, jadi tolok ukur etalase pariwisata dunia. Ia meyakini, Kamtibmas itu sebuah investasi besar dan lama dan tidak bisa turun dari langit. “Itulah sebabnya saya turun sampai ke akar rumput. Dengar langsung apa keluhan masyarakat, para sopir, para guide, dimana ada warga berkerumun saya datang kesana. Saya tanya, diskusi, serap aspirasi, bagaimana Kamtibmas ini jadi tanggung jawab bersama, bukan urusan kepolisian saja,” ujarnya.
Penguatan Kamtibmas itu harus datang dari bawah, dari masyarakat, dari komunitas sosial yang tersebar di seluruh masyarakat. Oleh karena itu, patroli tetap dilakukan sebagai bentuk kehadiran negara dalam melindungi masyarakat. Namun Polri harus hadir di tengah masyarakat, serap aspirasi masyarakat, apa yang menjadi keinginan masyarakat untuk mewujudkan Kamtibmas. “Saya turun langsung ikut patroli bersama anggota lainnya sampai dinihari,” ujarnya. Polri harus berada di tengah masyarakat, sebab Kamtibmas
menjadi perhatian Polresta untuk menjaga Denpasar sebagai etalase pariwisata Bali. Salah satu langkah yang dilakukan adalah meningkatkan kehadiran personel melalui patroli malam hingga dini hari.
Winaya mengungkapkan dirinya akan turun langsung memimpin patroli yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 23.00 hingga 04.00 WITA. Kegiatan tersebut ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat maupun wisatawan yang beraktivitas pada malam hari. “Kami menilai dari masyarakat ini pengin kehadiran polisi, makanya nanti malam kita patroli, dari jam 11 malam sampai jam 4 pagi,” ujar Winaya.
Menurut Winaya, Denpasar memiliki posisi strategis sebagai ibu kota sekaligus salah satu pusat aktivitas pariwisata di Bali. Karena itu, jajaran Polresta Denpasar dituntut mengoptimalkan berbagai kegiatan untuk menjaga situasi keamanan tetap kondusif.
Ia menjelaskan, penentuan waktu patroli dilakukan berdasarkan analisis Bagian Operasi Polresta Denpasar terhadap situasi dan waktu yang dinilai rawan, termasuk periode meningkatnya aktivitas masyarakat. Dengan demikian, pelaksanaan patroli disesuaikan dengan hasil penilaian terhadap kondisi keamanan di lapangan.
Selain penguatan patroli, Winaya juga menyoroti penilaian terhadap keamanan Bali yang menurutnya harus dilakukan secara proporsional. Ia mengingatkan agar satu peristiwa kriminal di suatu lokasi tidak langsung digeneralisasi sebagai gambaran bahwa seluruh wilayah Denpasar maupun Bali tidak aman. “Seberapa pengaruh daripada ketidakamanan di titik ini terhadap luasnya wilayahnya? Kan harus dinilai itu, tidak boleh digeneralisir,” tegasnya.
Ia menilai, penilaian keamanan harus mempertimbangkan cakupan wilayah dan dampak suatu peristiwa terhadap kondisi secara keseluruhan. Sebab, kejadian kriminal di satu titik tidak serta-merta mencerminkan situasi keamanan di seluruh wilayah.
Winaya juga menyinggung dampak pemberitaan kasus kriminal terhadap citra pariwisata Bali. Ia mencontohkan kasus mutilasi yang melibatkan warga negara Rusia pada 2025 sebagai salah satu peristiwa yang mendapat perhatian luas. Menurutnya, informasi mengenai keamanan Bali perlu disampaikan secara proporsional agar masyarakat, termasuk calon wisatawan, memperoleh gambaran yang tepat sebelum berkunjung.
Ia pun mengajak media online untuk turut menyampaikan informasi mengenai kondisi keamanan Denpasar kepada masyarakat di berbagai daerah.
Program ini dirancang sebagai ruang dialog rutin dengan menghadirkan tokoh-tokoh berpengaruh di Bali untuk membahas berbagai isu aktual yang berkaitan dengan pembangunan dan kepentingan masyarakat.

