KEK Kura Kura Bali Jadi Basis Riset Pengaruh Musik bagi Otak dan Kesehatan Manusia

0
224

DENPASAR, REPORTASE BALI- Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali saat ini menjadi basis riset ilmiah tentang pengaruh musik bagi perkembangan otak, kesehatan dan pola perilaku manusia. Hal ini diawali dengan digelarnya diskusi ilmiah di Kampus UID yang berlokasi di KEK Kura Kura Bali dengan para peneliti dunia terkenal dan peneliti dalam negeri di KEK Kura Kura Bali. Diskusi bertajuk ‘Music and Brain: Imaging Imagination – Musical Creativity and The Brain’ digelar untuk ketiga kalinya di KEK Kura Kura Bali pada 9-11 Januari 2026. Acara ini merupakan sinergi antara Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA), Tsinghua University bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Hadir dalam ajang bergengsi tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan
Teknologi, Prof. Stella Christie yang mengapresiasi peran KEK Kura Kura Bali yang telah bertransformasi menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) bagi masyarakat luas. “Terima kasih telah menciptakan ruang yang begitu indah, dimana ilmuwan, pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat umum dapat bertemu dalam kedudukan yang setara demi bertukar pikiran. Tempat ini, Kura-Kura Bali, bisa saja hanya menjadi hotel biasa, pusat perbelanjaan, atau hal-hal umum lainnya yang sering kita lihat di Bali. Namun, kini juga didedikasikan untuk ilmu pengetahuan.” kata Prof. Stella Christie.

Wamendikitisaintek Stella Christie menekankan bahwa meskipun kaitan antara musik dan fungsi otak telah menjadi standar riset global, Indonesia kini tengah bergerak cepat mengejar penguatan studi di bidang tersebut. Dalam pernyataannya, Stella Christie menyebut pemerintah menyediakan dana hibah untuk penelitian pada 2025 yakni sebesar Rp 3,2 triliun atau mengalami kenaikan 218% dibandingkan Rp 1,4 triliun pada 2024. ’Riset dan pengetahuan tidak berhenti hanya di laboratorium semata, namun terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Sebagai bangsa Indonesia, kita harus bangga bahwa kita punya keberagaman musik, dan kita bisa belajar dari itu. Kami menciptakan ekosistem dan menyediakan pendanaan yang kuat,’’ katanya.

Baca Juga :   Porsenijar Ke-6 YPLP PGRI Kota Denpasar Resmi Dibuka Walikota Denpasar

Sejalan dengan visi tersebut, pakar neurosains musik ternama dunia, Prof. Charles Limb dari University of California, San Fransisco hadir dan turut memaparkan hasil risetnya. Ia mampu membuktikan bahwa musik memiliki peran lebih dari sekadar hiburan. Eksistensi musik di hampir seluruh budaya manusia menunjukkan adanya fungsi biologis mendasar, terutama dalam aspek kesehatan mental dan hubungan sosial.

Dengan antusiasme tinggi, Prof. Charles Limb menyampaikan optimismenya terhadap sinergi lintas disiplin ini dan berharap Bali bisa menjadi tempat riset berkualitas selanjutnya. “Semua orang yang peduli akan hal ini, semua yang mencintai musik sekaligus mencintai sains, dan ingin melihat kedua dunia ini bersinergi, kita semua ada di sini, melakukan bagian kita masing-masing. Kita hanya membutuhkan konteks dan lingkungan yang lebih baik agar hal ini bisa terulang kembali. Jika hal seperti ini tidak terjadi di AS, Washington DC, mungkin ini bisa terjadi di tempat lain di seluruh dunia, bahkan mungkin di Bali,” jelasnya.

Selama tiga hari penuh, workshop ini menyajikan pengalaman imersif yang bukan sekadar teori. Para peserta bisa menyaksikan langsung demonstrasi teknologi mutakhir dan pertunjukan musik yang mengeksplorasi keajaiban ritme, melodi, yang mempengaruhi kinerja otak manusia. Hal menarik lainnya, workshop ini juga menyoroti potensi teknologi masa depan dalam menghadirkan musik yang inklusif bagi penderita gangguan pendengaran. Rangkaian kegiatan ditutup dengan public lecture, yang merupakan upaya memperluas akses publik terhadap diskursus ilmiah serta memperkuat keterhubungan antara dunia riset dan masyarakat.

Kura Kura Bali adalah Kawasan Ekonomi Khusus untuk Pariwisata Berkualitas dan Industri Kreatif, yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia pada April 2023, dan dikelola oleh PT Bali Turtle Island Development (BTID) sebagai Master Developer. Dengan luas 498 hektare, Kura Kura Bali adalah destinasi dengan semangat Bali modern yang mengintegrasikan kekayaan warisan budaya Bali yang berakar pada filosofi Tri Hita Karana, yaitu mewujudkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Baca Juga :   IKIP PGRI Bali Adakan Kegiatan Workshop Untuk Dosen

Dengan fokus pada gaya hidup marina, komunitas berbasis pengetahuan, dan
pencapaian kualitas hidup secara menyeluruh, Kura Kura Bali menciptakan peluang untuk era baru pariwisata, industri inovatif, dan well-being yang holistik. Berdasarkan penghormatan terhadap tradisi dan didorong oleh perencanaan yang matang, Kura Kura Bali berupaya membentuk masa depan di mana budaya dan modernitas hidup berdampingan dan menjadi pemimpin dalam pembangunan yang bertanggung jawab untuk memberikan nilai berkelanjutan bagi komunitas lokal dan global.

Sementara Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) merupakan pusat regional Tsinghua University di Asia Tenggara yang berlokasi di KEK Kura Kura Bali. TSEA berfokus pada pengembangan kolaborasi internasional di bidang pendidikan, riset, inovasi, dan kebijakan publik, dengan menjembatani pertukaran pengetahuan antara Tiongkok, Asia Tenggara, dan komunitas global.