DENPASAR, REPORTASE BALI- Mahasiswa Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa (Unwar) menciptakan inovasi wadah tanam ramah lingkungan (biopot) dengan memanfaatkan limbah pertanian. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan pertanian berkelanjutan sekaligus meminimalisir ketergantungan pada penggunaan polybag plastik yang sulit terurai.
Inovasi tersebut dipaparkan oleh Ni Ketut Sri Rahayu dalam Sidang Promosi Tugas Akhir di Denpasar, Senin (20/4/2026). Menariknya, sidang ini bukan merupakan ujian skripsi konvensional, melainkan jalur prestasi sebagai implementasi kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Dalam risetnya, Rahayu memanfaatkan limbah lignoselulosa berupa serbuk gergaji dan kulit kakao yang seringkali hanya menjadi tumpukan sampah. Dengan menggunakan perekat alami dari tepung tapioka, bahan-bahan tersebut diolah menjadi biopot yang memiliki ketahanan fisik cukup baik sebagai alternatif wadah tanam. “Penggunaan polybag berbahan polietilen di sektor pertanian menyumbang akumulasi limbah plastik di tanah. Biopot ini dirancang agar dapat terdegradasi secara alami sekaligus memberikan nutrisi tambahan bagi tanah saat hancur,” ujar Rahayu dalam paparannya.
Berdasarkan hasil pengujian, formulasi tertentu dari serbuk gergaji dan kulit kakao menunjukkan karakteristik daya serap air dan kerapatan yang memenuhi standar kualitas, sehingga layak digunakan sebagai media pembibitan tanaman.
Sidang bebas tugas akhir ini menjadi tonggak sejarah bagi Fakultas Pertanian Unwar. Kebijakan ini didasarkan pada Permendikbudristek No. 53 Tahun 2023 Pasal 18 Ayat 9, yang menyatakan bahwa tugas akhir mahasiswa tidak harus berbentuk skripsi, melainkan dapat berupa proyek, prototipe, atau prestasi yang setara.
Rahayu terpilih melalui jalur ini berkat torehan prestasinya di kancah nasional dan internasional. Ia juga aktif dalam Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK-Ormawa) hingga berhasil lolos ke ajang bergengsi Program Abdidaya tahun 2023 di Jember.
Ketua Program Studi Agroteknologi Unwar, Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si., menyatakan bahwa sidang ini bertujuan untuk memberikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa di luar jalur akademik murni. “Rahayu bebas skripsi karena menang beberapa lomba, termasuk lolos Abdidaya. Ini terobosan baru, di mana prestasi mahasiswa dihargai secara nyata dalam sistem kelulusan,” kata Udayana saat membuka sidang tersebut.
Berbeda dengan ujian tertutup, sidang kali ini cenderung bersifat promosi dan diseminasi hasil karya. Udayana menegaskan bahwa format sidang istimewa ini sengaja dirancang agar mahasiswa lain dapat melihat langsung hasil karya seniornya dan terinspirasi untuk menempuh jalur serupa.
Dalam sidang tersebut, mahasiswa diberikan kesempatan memaparkan karya ilmiah mereka, sementara peserta yang hadir diberikan ruang untuk memberikan tanggapan dan pendalaman materi. “Kami berharap ini menjadi pemicu bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi dan mengejar prestasi. Jalur nonskripsi ini membuktikan bahwa kreativitas di lapangan memiliki bobot yang setara dengan riset teoretis,” tutup Udayana.
Inovasi biopot ini diharapkan tidak hanya berhenti di meja sidang, tetapi dapat diaplikasikan secara luas oleh petani di Bali sebagai bagian dari gerakan pertanian minim sampah atau zero waste agriculture.



















