BANGLI, REPORTASEBALI.ID — Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, mendorong penerapan pariwisata regeneratif melalui rangkaian kegiatan libur sekolah yang berpuncak pada Penglipuran Village Festival XIII pada 9–11 Juli 2026.
Konsep pariwisata regeneratif menjadi fokus utama desa adat tersebut, yakni pendekatan wisata yang tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan dan budaya, tetapi juga memperbaiki serta memberikan dampak positif berkelanjutan bagi masyarakat.
Kepala Badan Usaha Desa Adat (BUPDA) Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengatakan bahwa pariwisata tidak lagi hanya diukur dari jumlah kunjungan, melainkan dari manfaat yang dihasilkan bagi desa.
“Melalui tema ‘Harmoni Bhumi Penglipuran’, kami ingin memastikan setiap aktivitas wisata memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan, budaya, dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Sumiarsa.
Selama libur sekolah, Penglipuran menghadirkan berbagai aktivitas berbasis budaya yang melibatkan wisatawan secara langsung. Di antaranya pertunjukan Tari Barong Macan, belajar meracik minuman herbal tradisional loloh, hingga kegiatan melukis di atas bambu.

Menurut Sumiarsa, kegiatan tersebut dirancang agar wisatawan tidak hanya menikmati panorama desa, tetapi juga memahami nilai-nilai kehidupan masyarakat Bali.
“Wisatawan diajak menjadi bagian dari pengalaman budaya, bukan sekadar penonton,” katanya.
Seiring meningkatnya mobilitas wisata saat liburan, jumlah kunjungan ke Desa Penglipuran pun mengalami lonjakan. Dalam periode 23 Juni hingga 5 Juli 2026, rata-rata kunjungan mencapai lebih dari 3.500 orang per hari, meningkat dari rata-rata normal sekitar 2.000 pengunjung.
Peningkatan tersebut dinilai menunjukkan tingginya minat wisatawan terhadap destinasi yang menawarkan pengalaman edukatif dan berbasis budaya.
Sebagai desa wisata yang meraih penghargaan Best Tourism Village dari UN Tourism pada 2024, Penglipuran terus mempertahankan identitasnya sebagai desa yang mengedepankan kebersihan, tata ruang tradisional, serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan pariwisata.
Melalui Penglipuran Village Festival, masyarakat desa akan menampilkan berbagai kegiatan, seperti parade budaya, pertunjukan seni tradisional, pameran produk UMKM, hingga lomba-lomba tradisional.
Festival tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi wisatawan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya.
Sumiarsa menambahkan, keterlibatan wisatawan dalam aktivitas desa, seperti membeli produk lokal dan menjaga kebersihan, merupakan bagian dari implementasi pariwisata regeneratif.
“Setiap wisatawan yang datang diharapkan tidak hanya membawa pulang pengalaman, tetapi juga meninggalkan dampak positif bagi desa,” ujarnya.
Pengelola Desa Wisata Penglipuran pun mengimbau pengunjung untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta menghormati adat dan tradisi setempat.
Dengan pendekatan tersebut, Desa Penglipuran berharap dapat terus menjadi contoh pengembangan pariwisata berkelanjutan yang mampu memberi manfaat lintas generasi.




















