Pementasan Sekeha Darma Prawerti di PKB Ke-39 Sedot Animo Pengunjung

0
602

REPORTASEBALI.COM – Pementasan drama tabuh oleh Sekeha Gong Darma Prawerti di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-39, mampu menyedot perhatian pengunjung. Ide cerita yang mudah dipahami ditambah improvisasi banyolan yang khas, menambah apik pementasan para seniman asal dari Desa Lokasari, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Bali.
 
Penanggungjawab I Gusti Nyoman Okayana, mengatakan, konsep cerita tak lepas dari tema PKB Ke-39 yakni Ulun Danu atau melestarikan air sebagai sumber kehidupan. Dari tema itu berkembang ide cerita yang kemudian dituangkan dalam konsep pementasan.
 
“Cerita tetap mengacu pada tema yang diangkat di PKB Ke-39 ini yakni Ulun Danu. Dalam setiap dialog tetap ada improvisasi lawakan tapi tak lepas dari inti cerita,” jelas Gusti Nyoman Okayana, Jumat, 30 Juni 2017.
 
Dengan didukung oleh I Wayan Karyata sebagai Koordinator, I Nyoman Suratna sebagai inisiator cerita, penata tari I Nyoman Subawa dan penata tabuh I Ketut Agus A., S.Sn, pementasan drama itu tersusun apik.
 
Kisah cerita berawal dari suatu masa sulit yang terjadi di Desa Sidemen. Tokoh Sidemen pada masa itu yang bernama Sira Anglurah Sidemen merasakan penderitaan rakyat akibat bencana kekeringan yang melanda desanya.
 
Ia kemudian memiliki inisiatif untuk menggunakan Mata Air Petung untuk mengatasi bencana itu. Lalu, diutuslah Patih yang bernama I Gusti Nyoman Kebon bersama warga desa untuk menghadap Ida Gede Padang Ratu.
 
Tujuannya tak lain, meminta ijin memanfaatkan Sumber Mata Air Petung sebagai sarana irigasi untuk kelangsungan hidup rakyat Desa Sidemen. Ida Gede Padang Ratu pun memberikan ijin.
 
Air yang berlimpah ruah dari Mata Air Petung bukan hanya mampu mengairi Desa Sidemen saja, bahkan sampai ke desa-desa yang ada di wilayah Klungkung. Maka dari itu, mata aliran air itu disebut sebagai Yeh Bah.
 
Gusti Nyoman Okayana mengatakan, selain untuk menghibur, drama pementasan itu juga sarat dengan pesan moral. Air sebagai sumber kehidupan harus tetap dijaga kelestariannya. Hal itu, menurutnya juga terdapat dalam konsep Tri Hita Karana sebagai hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
 
“Pesan lain yang ingin kita sampaikan adalah toleransi dan sikap saling bekerjasama. Kita harus melepas ego untuk kepentingan yang lebih besar,” jelas Nyoman Okayana. (Dayu)

Baca Juga :   Film Jurnalis Serumpun Sebalai Bakal di Putar Perdana di Bali