OJK Luncurkan Buku Saku Literasi Keuangan untuk Pekerja Migran Indonesia, Dorong PMI Cerdas Finansial

0
167
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi

REPORTASEBALI.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan nasional, khususnya bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menjadi salah satu segmen prioritas dalam Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) 2021–2025.

Upaya tersebut diwujudkan melalui peluncuran Buku Saku Literasi Keuangan bagi Pekerja Migran Indonesia bertema “PMI Cerdas Finansial, Menuju Indonesia Maju”, yang berlangsung di Jakarta, Senin (10/11/2025).

Peluncuran buku ini merupakan hasil kolaborasi antara OJK, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), dan Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan panduan praktis bagi para pekerja migran untuk mengelola keuangan secara bijak, aman, dan berkelanjutan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan bahwa para pekerja migran Indonesia merupakan pahlawan devisa yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

“Kita memilih hari yang sakral ini, Hari Pahlawan 10 November, karena para pekerja migran adalah pahlawan devisa bagi negara. Mereka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memberi harapan hidup bagi keluarga serta masyarakat di daerah asal,” ujar Friderica dalam sambutannya.

Friderica menjelaskan, berdasarkan data KP2MI dan Bank Indonesia, nilai remitansi yang dikirimkan pekerja migran Indonesia pada tahun 2024 mencapai Rp 251–263 triliun, setara dengan 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Rata-rata setiap PMI mengirimkan Rp 5,3 juta per bulan kepada keluarganya di tanah air.

“Besarnya arus remitansi pekerja migran membuka peluang besar bagi industri jasa keuangan nasional. Karena itu, seluruh pelaku industri – perbankan, pegadaian, asuransi, hingga lembaga keuangan mikro – harus ikut berperan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan,” tambahnya.

Friderica menegaskan bahwa peluncuran buku saku ini menjadi langkah konkret OJK dalam melindungi pekerja migran dari risiko keuangan, sekaligus meningkatkan kemampuan mereka mengelola pendapatan dengan lebih terencana.

“PMI yang cerdas finansial, khususnya di era digital, akan meningkatkan kesejahteraan dirinya dan keluarga, serta berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi nasional,” katanya.

Buku saku ini memuat panduan praktis tentang cara menabung, mengelola pendapatan, menghindari investasi bodong, serta menggunakan layanan keuangan digital secara aman.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Kepala BP2MI), Mukhtarudin, menyampaikan apresiasi atas sinergi lintas lembaga dalam peluncuran buku ini. Ia menilai, kolaborasi antara OJK, KP2MI, dan BI menjadi contoh nyata upaya bersama dalam memberdayakan dan melindungi PMI.

“Buku saku ini menjadi panduan agar pekerja migran lebih bijak menggunakan keuangannya. Namun, kami juga mengingatkan agar PMI berhati-hati menjaga data pribadi dan tidak sembarangan memberikan informasi rekening,” tegas Mukhtarudin.

Ia menyebut masih banyak kasus penyalahgunaan data dan rekening milik PMI untuk tindak penipuan atau kegiatan ilegal. Karena itu, peningkatan literasi keuangan juga harus dibarengi dengan edukasi perlindungan data pribadi.

Peluncuran buku ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Christina Aryani, Kepala Departemen Survailans Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen Bank Indonesia Anton Daryono, serta perwakilan pelaku usaha jasa keuangan dan PMI.

Ke depan, program edukasi keuangan ini akan diperluas ke berbagai daerah kantong pekerja migran, seperti Jawa Barat, NTB, Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, dan Bali.

Program ini juga akan diintegrasikan dengan Orientasi Pra Pemberangkatan (OPP) agar setiap calon PMI memperoleh bekal literasi keuangan sejak dini.

“Pemberdayaan pekerja migran tidak hanya soal perlindungan, tetapi juga kemandirian finansial untuk membangun masa depan yang lebih sejahtera,” tutup Friderica.