DENPASAR, REPORTASE BALI- Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali kembali bersiap menyelenggarakan Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026 pada 9–11 Juli 2026. Festival tahun ini mengangkat tema “Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif.” Melalui tema tersebut, Penglipuran ingin menyampaikan pesan bahwa pariwisata masa depan tidak cukup hanya ramai dikunjungi. Pariwisata harus mampu menjaga adat, merawat lingkungan, menguatkan ekonomi masyarakat, memperkaya pengalaman wisatawan, serta mewariskan desa yang lebih baik kepada generasi mendatang.
Kepala Badan Usaha Desa Adat Penglipuran, Wayan Sumiarsa, menyampaikan, Penglipuran Village Festival XIII bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang kebersamaan untuk mempertemukan budaya, lingkungan, UMKM, edukasi, partisipasi masyarakat, dan semangat regeneratif desa. “Penglipuran tidak hanya ingin dikenal sebagai desa wisata yang indah, bersih, dan tertata. Kami ingin Penglipuran menjadi contoh desa wisata yang hidup, berbudaya, inklusif, dan regeneratif. Festival ini adalah undangan kepada masyarakat Indonesia dan wisatawan dunia untuk datang, merasakan, belajar, mendukung produk lokal, serta ikut menjaga warisan Penglipuran,” ujar Sumiarsa.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Desa Wisata Penglipuran mencatat kunjungan sebanyak 308.444 wisatawan. Secara jumlah, kunjungan tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2024 dan 2025. Namun, kondisi ini menjadi
momentum bagi Penglipuran untuk memperkuat kualitas pengelolaan, menjaga daya dukung desa, meningkatkan kenyamanan pengunjung, serta memastikan manfaat pariwisata semakin dirasakan oleh krama.
Saat ini, rata-rata kunjungan berada di kisaran 2.000 sampai 2.500 wisatawan per hari, yang masih sesuai dengan daya dukung Desa Wisata Penglipuran. Wisatawan Nusantara masih mendominasi kunjungan, menunjukkan bahwa Penglipuran tetap menjadi destinasi budaya yang dicintai masyarakat Indonesia. “Kami tidak ingin Penglipuran mengalami overtourism. Keberhasilan desa wisata bagi kami tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan, tetapi dari kemampuan pariwisata menjaga adat, lingkungan, tata ruang, rumah adat, dan kesejahteraan krama,” tambah Sumiarsa.
Sepanjang tahun 2026, Penglipuran juga memperkuat sejumlah program perbaikan, antara lain pengelolaan sampah, perbaikan jogging track, perbaikan rumah-rumah adat, subsidi perbaikan rumah adat, insentif hari raya bagi krama, pembangunan relief sejarah Desa Penglipuran, serta perbaikan tata kelola melalui pembentukan badan usaha desa adat.
Seluruh program tersebut diarahkan untuk mewujudkan Sapta Misi Desa Adat Penglipuran menuju desa wisata regeneratif, yaitu menguatkan krama, menjaga alam, meneguhkan adat dan spiritualitas, membangun ekonomi desa, menjaga tata ruang dan identitas, mengembangkan UMKM serta produk lokal, dan mewujudkan tata kelola yang terpercaya serta berkelanjutan.
Penglipuran Village Festival XIII dirancang sebagai festival yang tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga pengalaman. Festival ini mengusung konsep 4S, yaitu Something to Do, Something to See, Something to Buy, dan Something to Learn. Melalui konsep tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat keindahan desa, tetapi juga dapat ikut melakukan aktivitas kreatif, menyaksikan pertunjukan budaya, membeli produk lokal, menikmati kuliner, mengenal UMKM, mengikuti workshop, serta belajar tentang lingkungan dan kehidupan masyarakat desa adat. Sebagai wujud nyata dari tema pariwisata inklusif, rangkaian kegiatan selama tiga hari juga akan melibatkan warga penyandang disabilitas untuk turut meramaikan festival sesuai minat, kapasitas, dan ruang partisipasi yang tersedia. Kehadiran mereka menjadi pesan penting bahwa Penglipuran ingin membangun pariwisata yang memberi ruang bagi semua, menghargai keberagaman, serta memastikan setiap warga dapat menjadi bagian dari kemajuan desa.
Rangkaian kegiatan festival akan menghadirkan tari kolosal, parade gebogan, tari penyambutan, Tari Palegongan “Raksan Gumi”, bondres, seni pertunjukan, lomba penjor, lomba gebogan, lomba busana tempoe doloe, workshop lingkungan, Yoga Tertawa, musik lokal, pameran, kuliner, handicraft, souvenir, merchandise, serta paket pengalaman wisata berbasis desa. “Kami ingin wisatawan pulang tidak hanya membawa foto, tetapi juga membawa cerita, pengetahuan, rasa hormat, dan pengalaman bermakna tentang harmoni hidup masyarakat Penglipuran,” jelas Sumiarsa.
Pada hari pertama, Kamis, 9 Juli 2026, festival akan dibuka dengan nuansa budaya yang kuat melalui penyambutan tamu undangan, tari kolosal, parade gebogan, tari penyambutan, pembukaan resmi festival, Tari Palegongan “Raksan Gumi”, bondres, peninjauan stand pameran, penilaian lomba gebogan, penilaian lomba penjor, serta
seni pertunjukan. Pada hari kedua, Jumat, 10 Juli 2026, festival akan menghadirkan workshop lingkungan, lomba busana tempoe doloe, serta musik lokal. Hari kedua ini menjadi ruang edukasi, kreativitas, ekspresi budaya, dan pelibatan generasi muda. Pada hari ketiga, Sabtu, 11 Juli 2026, festival menghadirkan Yoga Tertawa dan musik lokal sebagai simbol kegembiraan, kesehatan, kebersamaan, dan energi positif masyarakat Penglipuran.
Selama tiga hari penyelenggaraan, festival ini juga menjadi ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat, termasuk pelaku UMKM, seniman lokal, generasi muda, krama desa, warga penyandang disabilitas, serta wisatawan yang ingin
merasakan langsung kehidupan Desa Adat Penglipuran.
Penglipuran Village Festival XIII menjadi ajakan terbuka kepada masyarakat
Indonesia dan wisatawan mancanegara untuk hadir dan merasakan langsung
kehidupan desa adat Bali yang harmonis, bersih, tertata, ramah, inklusif, dan berbudaya. Festival ini juga menjadi ruang penting untuk memperkuat peran UMKM dan produk lokal. Melalui stand kuliner, handicraft, souvenir, merchandise, dan paket pengalaman wisata, manfaat pariwisata diharapkan semakin dirasakan oleh masyarakat desa. “Datang ke Penglipuran Festival berarti menikmati budaya, belajar dari desa, mendukung UMKM lokal, menghargai keberagaman, dan ikut menjaga masa depan pariwisata Bali,” ujar Sumiarsa.
Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026 adalah momentum untuk merayakan wajah Bali yang hidup: adatnya kuat, alamnya dijaga, masyarakatnya terlibat, UMKM-nya tumbuh, kelompok rentan diberi ruang, dan pariwisatanya bergerak menuju masa depan yang regeneratif.
Penglipuran ingin menunjukkan bahwa desa wisata masa depan bukan hanya desa yang ramai dikunjungi, tetapi desa yang mampu menjaga jati diri, membangun kesejahteraan, memperkuat kebersamaan, dan menghadirkan pariwisata yang
memberi manfaat bagi semua. Mari hadir di Penglipuran pada tanggal 9–11 Juli 2026. Saksikan budayanya,
rasakan harmoninya, dukung produk lokalnya, hormati adatnya, dan jadilah
bagian dari perjalanan Penglipuran menuju desa wisata regeneratif.




















