Susuri Medan Terjal dan Tak Terjangkau Bantuan Pemerintah, Ini Kisah Andy Opa Gaul Bawa Bantuan ke Flores

DENPASAR, REPORTASE BALI- Bencana gempa Flores yang terjadi pada 15 Agustus lalu terus menyisakan penderitaan berkepanjangan bagi warga masyarakat. Selain rumah warga yang hancur berantakan, banyak jalan-jalan akses ke desa-desa terpencil di Flores rusak dan tertimbun longsor. Akibatnya, banyak desa-desa di Flores yang tidak tersentuh bantuan bencana alam dari pemerintah.

Di tengah kesulitan yang dihadapi banyak warga di Flores dan sulit dijangkau bantuan pemerintah, ada relawan yang terus melayani bantuan masyarakat di berbagai desa yang tidak bisa dijangkau pemerintah dan relawan lainnya. Mereka adalah pegiat media sosial Andy Opa Gaul dan Yayasan Peduli Cinta Indonesia (YPCI) bersama anggota relawan Forum Pemuda NTT Bali. Andy Opa Gaul bekerja siang malam bersama Forum Pemuda NTT terus menerjang medan sulit, mendaki pegunungan, menuruni lembah, memilih desa yang sangat terpencil.

Ketua Umum Forum Pemuda NTT Yohanes Hiba Ndale saat dikonfirmasi dari Denpasar, Minggu (30/8/2026) mengaku hingga saat ini timnya terus berada di Flores membantu korban gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi menyisakan puing-puing reruntuhan dibanyak permukiman yang ada di Flores NTT. Ia mengisahkan, timnya bersama Andy Opa Gaul dan Yayasan Peduli Cinta Indonesia harus berjuang melawan kondisi topografi yang sulit. Salah satunya saat timnya turun ke Desa Heawea, Kecamatan Aimere, Kabuptaen Ngada. “Cukup menantang perjuangan kita untuk menembus Desa Heawea. Medan sangat menantang, kami tetap yakin bahwa kami akan sampai di desa tersebut untuk memberikan bantuan bagi warga masyarakat yang ada di Desa Heawea Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada,” ujar Hiba Ndale.

Ia menegaskan, topografi perbukitan yang terjal, lengkap dengan jalan tanah yang sempit, licin dan berlubang tak menyurutkan semangat misi kemanusiaan untuk mendatangi lokasi bencana ini. Sesampainya di puncak bukit, tim langsung menyoroti kapela atau tempat ibadah gereja kecil yang mengalami kerusakan parah. Tak hanya itu, Kantor Desa serta gedung BUMDES di Heawea juga mengalami kerusakan dampak gempa bumi Flores berkekuatan Magnitudo 7,7. Warga yang mengalami kerusakan rumah dari ringan hingga parah membuat tenda darurat di dengan terpal seadanya. Mereka tidak berani untuk tinggal di dalam rumah, karena masih takut banyak gempa susulan.

Sesampainya di Desa Heawea, Andy Opa Gaul dan para relawan mendapatkan sambutan hangat dari para warga. Sebanyak 63 paket bantuan kebutuhan pokok berupa beras, gula, minyak goreng dan makanan ringan Opa Cake langsung diturunkan dari truk untuk dibagikan ke warga yang terdampak gempa.

Kepala Desa Heawea Fransiskus K.L. Day menerima langsung bantuan logistik untuk disalurkan ke warga yang terdampak. Selain memberikan bantuan, tim YPCI juga mendata kebutuhan yang paling dibutuhkan oleh warga yang terdampak gempa di Desa Heawea.
“Kebutuhan yang paling mendesak dengan situasi gempa seperti ini, yang paling pertama itu mungkin bahan sembako. Dan Yang kedua mungkin kami disini butuh tenda-tenda jadi. Karena kami disini membutuhkan waktu lama untuk bisa pulih kembali. Yang paling utama itu adalah akses transportasi, karena memang seperti tadi teman-teman lewat kesini akses transportasinya sangat sulit. Mungkin ada banyak teman-teman dari luar yang perduli akan Desa Heawea untuk bisa membantu,” ujar Kepala Desa Heawea, Fransiskus K.L. Day.

Sebelumnya, saat dikonfirmasi di pos penampungan logistik dari YPCI yang ada di Jl. D.I. Pandjaitan Kelurahan Trikora, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, NTT, Andy Opa Gaul menyebut ada tiga titik lokasi terdampak gempa yang mendapatkan penyaluran bantuan logistik dari para donatur. Selain warga di Desa Heawea, juga ada Desa Uluwae dan Desa Waewea yang mendapatkan bantuan. Total ada 263 paket bahan logistik yang tersalurkan. “Jadi untuk hari ini ada tiga titik. Tiga titik ini (akses lokasinya) lebih ekstrem. Ini tidak ada targetnya, ini panggilan. Jadi untuk menjalankan misi kemanusiaan, tidak ada target kapan Opa pulang. Opa akan tetap salurkan semua bantuan untuk korban gempa di NTT ini,” pungkasnya.

Tak hanya bahan logistik, Andy Opa Gaul bersama YPCI juga akan menyalurkan ribuan dus air mineral yang sudah diangkut menggunakan 5 kontainer untuk dibagikan ke warga yang masih berdiam di posko pengungsian. Pria 71 tahun kelahiran Binjai, Medan ini juga mengaku belum membeli tiket pulang ke Bali sebelum paket bantuan yang dibawa dapat tersalurkan sepenuhnya ke para korban gempa Flores NTT.
“Opa masih belum membeli tiket pulang, itu artinya Opa masih akan tetap di Flores sampai semua paket bantuan tersalurkan. Dan itu semua harus tepat sasaran. Setelah dari sini akan banyak tempat lagi yang Opa kunjungi. Semoga apa yang kami bawa bisa bermanfaat bagi warga,” ungkapnya.

Selain menyalurkan bantuan, Andy Opa Gaul bersama Forum Pemuda NTT juga akan memberikan bantuan pemulihan psikologis dengan menggelar Trauma Healing Pasca Bencana untuk anak-anak yang ada di lokasi pengungsian. Tujuannya untuk mengurangi tingkat kecemasan dan kepanikan. Serta membangun kembali rasa aman bagi anak-anak dan dewasa. Dengan trauma healing, diharapkan akan mengembalikan semangat masyarakat untuk melakukan aktivitas secara normal.

Mungkin Anda Menyukai