DENPASAR, REPORTASE BALI- Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali memperkuat kualifikasi dan kapasitas pedagogik 153 Guru Pendidikan Agama Katolik melalui Kegiatan Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti dalam pembelajaran kreatif dan pemanfaatan media digital berbasis Kurikulum Merdeka, Jumat (30/10/2026) di Ruang Pertemuan Gereja Katolik Yesus Gembala Yang Baik, Ubung, Denpasar
Penguatan kapasitas pendidik ini menempatkan Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bukan sekadar wadah organisasi, melainkan sebagai laboratorium profesionalisme guru.
Melalui wadah ini, para pendidik dirangsang merumuskan metode pengajaran yang komunikatif dan adaptif terhadap teknologi guna menyelesaikan hambatan riil pembelajaran secara kolaboratif.
Upaya ini dirancang untuk menjamin hak setiap peserta didik memperoleh pendidikan keagamaan yang bermutu dan inklusif, sekaligus merealisasikan pilar Asta Protas dalam mencetak SDM unggul berkarakter mulia dan menasbihkan komitmen Kemenag Berdampak yang manfaatnya dirasakan langsung dalam peningkatan kualitas pembelajaran di ruang-ruang kelas.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali I Gusti Made (IGM) Sunarta menyampaikan bahwa forum pendidik harus bergerak dinamis dan tidak terisolasi. ”KKG dan MGMP bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan laboratorium profesionalisme guru. KKG dan MGMP Agama Katolik tidak boleh bekerja secara soliter, komunikasi dan sinergitas harus dibangun aktif. Sinergi ini dibangun secara aktif bersama Bimas Katolik, Dinas Pendidikan Daerah, hingga Komisi Pendidikan Keuskupan/Paroki.” tuturnya
Kakanwil IGM Sunartha mendorong agar KKG dan MGMP menjadi pusat solusi masalah pembelajaran serta tempat berbagi praktik baik (best practices) guna merancang metode pengajaran yang inklusif, komunikatif, dan berbasis budi pekerti. ”Saya berharap ini menjadi momen transformasi bagi setiap guru untuk menghadirkan pembelajaran yang inovatif, berdampak, dan penuh kasih di kelas,” ungkapnya.
Ajakan ini menggarisbawahi pentingnya peran guru sebagai pembentuk karakter siswa yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kedalaman iman dan kepekaan sosial.

