Petani Milenial Bali Diminta Temukan Solusi atas Persoalan Pertanian Bali

0
56
Petani Milenial Bali Diminta Temukan Solusi atas Persoalan Pertanian Bali

REPORTASEBALI, DENPASAR – Trend petani milenial Bali mulai bermunculan. Usia mereka rata-rata mulai dari 15-25 tahun. Kelompok milenial Bali ini mulai akrab dengan dunia pertanian sejak SMA/SMK hingga perguruan tinggi. Bahkan, saat ini petani milenial Bali tidak lagi sekedar bekerja di ladang atau sawah, tetapi menjadi pemikir di bidang pertanian.

Salah satunya dengan kompetisi Hackathon Yowana Subak. Ini adalah mencari ide dan solusi atas persoalan pertanian di Bali. Ada 10 tim dari Pemuda Bali mengikuti Hackathon Yowana Subak dengan total peserta 30 orang. Mereka berkompetisi dalam ide, gagasan, serta solusi terhadap persoalan yang dihadapi pertanian Bali.

Ke-30 pemuda ini lolos setelah melalui seleksi dari total 23 tim yang mendaftar. Selama 1 bulan mereka mengikuti program kelas online yang membahas mengenai pertanian dan Subak di Bali.

Pemuda-pemuda ini berusia 15-25 tahun merupakan sebagai siswa sekolah menengah atas dan juga beberapa merupakan mahasiswa di bidang lingkup agriculture serta mahasiswa dari bidang lainnya. Kompetisi Yowana Subak bertujuan meningkatkan exposure pertanian di kalangan pemuda Bali.

Keselepuluh tim ini telah melakukan pitching di Demo Day Hackathon Yowana Subak, Jumat (10/9/2021) yang berlangsung secara virtual melalui aplikasi Zoom. Terpilih dua kelompok pemenang utama yang akan mendapat pendanaan masing-masing Rp20 juta untuk melakukan implementasi solusi atas ide mereka yaitu dari tim GMNI Pertanian Denpasar dan Tri Chanakya.

Tim GMNI Pertanian Denpasar beranggotakan I Putu Edi Swastawan, I Kadek Wira Pradana, dan I Gede Pandi Eka Yasa. Tim ini mengangkat permasalahan tentang kelestarian sumber air subak di Bali. Mereka hadir dengan ide menjaga kondisi kawasan hulu yang menjadi faktor penting penjaga kelestarian air di subak.

Area mereka yang berada di kawasan Subak Abian Sukamaju, Desa Adat Langkan, Desa Landih, Kabupaten Bangli, Bali sudah menganut sistem agroforestri sejak dulu, namun mengalami alih fungsi drastis menjadi lahan hortikultura karena dampak ekonominya yang dinilai lebih rendah dibandingkan dengan usaha pertanian di bidang hortikultura. Sisi negatifnya penggunaan pestisida menjadi meningkat.

Melalui ide bisnis sosial “Bali Shankara” GMNI ingin meningkatkan bisnis pendapatan agroforestri kopi di Subak Abian Sukamaju, di hulu menciptakan sistem agrosilvopastura yang membangun ekosistem saling menguntungkan antara kopi, jeruk, kelor, lebah dan bunga seruni rambat. Serta wahana edukasi bagi petani untuk belajar di Subak Abian Sukamaju, di hilir akan intervensi supply chain kopi Subak Abian Sukamaju agar dibeli dengan harga yang lebih tinggi.

“Harapannya bisa meningkatkan pendapatan petani agroforestri kopi, sehingga secara lingkungan akan mengkonservasi lahan agroforestri kopi sebagai kawasan tangkapan air agar tidak dialih fungsikan ke komoditas lain yang tidak menunjang siklus hidrologi” papar Edi Swastawan, salah satu peserta lomba

Tim Tri Chanakya beranggotakan I Kadek Gandhi, Ni Kadek Sri Utari, dan Nengah Sumardana. Tim ini mengangkat permasalahan tentang pendapatan petani gurem di sekitar Desa Pancasari, Buleleng, Bali yang stagnan saja di tengah kebutuhan ekonomi yang meningkat. Masalah tengkulak juga menjadi faktor rendahnya pendapatan petani.

Hal-hal tersebut menjadi motivasi untuk mengembangkan agroeduekowisata. Saat ini sudah ada agrowisata yang dikelola oleh Kelompok Tani Segening di area Subak Kering Lila Cita, Dusun Lalanglinggah, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng sejak tahun 2018.

Mereka ingin meningkatkan valuenya dengan menambah konsep edu dan eko wisata. Harapannya dapat meningkatkan pendapatan petani dan berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan pertanian sekitar.

Melihat animo petani yang berminat berpartisipasi dari 3 petani sejak 2018 hingga menjadi 16 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Segening saat ini, dapat menjadi peluang yang baik untuk pengembangan implementasi solusi agroeduekowisata.

“Harapan kami project agroeduekowisata mampu diimplementasikan secara holistik dan bertahap. Berguna bagi peningkatan pendapatan petani, membantu meningkatkan kesadaran petani akan kelestarian alam sekitar, mewujudkan pemerataan pembangunan di Bali, dan tentunya semakin bangga menjadi bagian Penyangga Tatanan Negara Indonesia (PETANI),” ungkap Gandhi, selaku koordinator tim.

Terdapat juga 3 juara harapan yang akan mendapatkan dukungan tambahan dari Yowana Subak untuk pengembangan proyek solusi mereka. Tiga tim tersebut adalah Sustainable Agriculture dengan proyek Organican.change yang mencoba membantu petani memasarkan produk pertanian organik. Kelompok Bertaeman dengan proyek mengembangkan Black Soldier Fly untuk petani, dan Kelompok Bramasa dengan proyek melakukan perbaikan akses air untuk penyediaan air di Subak Kering.

Pentingnya pertanian untuk Bali dan besarnya peran pemuda di dalamnya Acara Demo Day yang berlangsung (10/9) dibuka oleh perwakilan YSEALI, Angie Mizeur sebagai Kepala Hubungan Masyarakat Konsulat Jendral AS Indonesia Surabaya dan juga perwakilan dari Pemerintah Provinsi Bali.

Pada kesempatan ini Oka Parwata mewakili Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali menyampaikan bahwa, satu-satunya sektor yang dapat bergerak ke arah yang positif di masa pandemi ini adalah pertanian.

Sektor pertanian Bali yang selama ini lebih bertumpu kepada sektor pariwisata. “Kedepan kita berharap pertanian akan menjadi fundamental perekonomian Bali” paparnya.

Penyuluh Pertanian Ahli Utama ini juga menyatakan apresiasinya saat penjurian presentasi peserta, atas ide-ide generasi muda untuk pertanian, dan harapannya momen ini sebagai penggerak pertanian kedepannya,

“Luar biasa, tidak terbayang kalau mereka punya ide-ide yang sangat solutif untuk membangun pertanian kita. Memang apa yang disampaikan tadi sinergi pertanian dan pariwisata menjadi salah satu solusi, keduanya perlu diseimbangkan sehingga kedepan pertanian akan menjadi fundamental. Mudah-mudahan adek-adek ini lah yang akan menjadi motor penggerak ke depan,” tambahnya lagi.

Sejalan dengan Oka, juri lainnya adalah Sayu Komang yang merupakan ahli permakultur dan agroforestri dari Yayasan IDEP Selaras Alam juga menyampaikan apresiasinya atas kepedulian anak-anak muda pada bidang pertanian.

“Ini semuanya anak-anak muda sekali jadi terima kasih banyak sudah mau memikirkan ide-ide bagaimana terkait dengan pertanian. Itu sangat penting karena generasi muda sekarang rata-rata sulit sekali untuk ada ketertarikan di bidang pertanian. Jadi buat saya ide-idenya ini luar biasa dan saya yakin juga akan sangat membantu petani jika ini teman-teman fokus untuk implementasinya nanti dan semoga ke depan teman-teman juga mengembangkan ide-idenya kembali supaya lebih baik lagi dan lebih membuat anak muda tertarik ke pertanian”, ucap Sayu menambahkan.

Ketua Bidang Kajian Subak Universitas Udayana, Ketut Suamba juga menjadi salah satu Juri dalam kompetisi ini. Ia memaparkan bahwa di Bali sinergi pertanian dan pariwisata menjadi konsep yang diangkat, namun sejauh ini perhatian yang diberikan kepada dua sektor ini belum seimbang,

“Perhatiannya lebih dominan terhadap sektor pariwisata, padahal yang menyediakan view dan sebagainya itu ya pertanian, apakah itu dengan sawah teraseringnya, dengan perkebunannya dan lain sebagainya. Jadi jasa-jasa tentang pertanian, jasa subak itu sangat besar sekali terhadap pariwisata maupun terhadap lingkungan,” jelas Suamba.

Salah satu permasalahan pertanian adalah pemasaran, menurutnya peran pemuda sangat diperlukan disini, “Dengan adanya era digitalisasi diharapkan anak-anak muda ini masuk ke sana. Jadi termasuk kelembagaan subak sendiri, dia tidak hanya berkutat di sektor gotong royong, sosial dan budaya saja; kelembagaan nya; tapi dia yang harus menghidupkan aktivitas ekonominya.

Sinergi, pertanian dan pariwisata atau agroekowisata yang dikembangkan di subak yang bersangkutan, dialah yang mengelolanya. Jadi kelembagaan subak inilah diaktifkan masuk ke sektor ekonominya, kelembagaan ekonominya. Ada rekayasa kelembagaan jadi tidak hanya beraktivitas di sosial dan budaya, tetapi juga masuk kepada aktivitas ekonomi untuk penyediaan input untuk on farmnya termasuk juga terhadap marketingnya”, pungkasnya.