DENPASAR, REPORTASEBALI.ID – Minat masyarakat Bali untuk berinvestasi di pasar modal terus meningkat. Hingga Juni 2026, jumlah investor di Pulau Dewata tercatat mencapai 425.369 investor, atau tumbuh 10,3 persen dibandingkan posisi akhir 2025.
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Bali, I Gusti Agus Abdiyasa, mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat menjadikan pasar modal sebagai instrumen investasi jangka panjang.
“Jumlah investor di Bali saat ini setara dengan sekitar 10 persen dari total penduduk Bali. Ini menjadi indikator positif bahwa literasi dan inklusi pasar modal terus berkembang,” ujarnya.
Tak hanya jumlah investor pasar modal, investor saham di Bali juga mengalami kenaikan signifikan. Hingga pertengahan 2026, jumlah investor saham mencapai 210.200 orang, meningkat 13,3 persen dibandingkan akhir tahun sebelumnya.
Menurut Abdiyasa, tren tersebut terus terjaga dalam lima tahun terakhir dengan pertumbuhan investor saham yang konsisten berada di atas 20 persen setiap tahunnya.
Salah satu daerah yang mencatat perkembangan cukup pesat adalah Kabupaten Buleleng. Pertumbuhan investor di wilayah tersebut didorong keberadaan Galeri Investasi di sejumlah perguruan tinggi yang aktif memberikan edukasi kepada mahasiswa maupun masyarakat.
Saat ini, BEI Bali telah bekerja sama dengan 32 Galeri Investasi yang tersebar di berbagai kampus dan instansi. Selain itu, terdapat 18 perusahaan sekuritas yang memiliki kantor cabang di Bali sehingga mempermudah masyarakat mengakses layanan investasi.
Secara nasional, tren pertumbuhan investor juga terus meningkat. Hingga akhir Juli 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia hampir mencapai 30 juta, yakni sekitar 29,9 juta investor.
BEI mencatat lebih dari 54 persen investor pasar modal nasional berusia di bawah 30 tahun. Dominasi generasi muda dinilai menjadi sinyal positif terhadap keberlanjutan pertumbuhan pasar modal Indonesia di masa mendatang.
Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, seperti konflik geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia, BEI tetap optimistis pasar modal Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan.
Menurut Abdiyasa, pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) terus melakukan berbagai reformasi untuk memperkuat kepercayaan investor.
Langkah tersebut di antaranya meningkatkan porsi free float saham menjadi 15 persen, membuka transparansi kepemilikan saham di atas satu persen, memperkuat pengawasan perusahaan tercatat, hingga menyiapkan rencana demutualisasi BEI.
Ia menegaskan edukasi tetap menjadi kunci dalam memperluas basis investor.
“Semakin tinggi literasi masyarakat terhadap investasi, semakin besar peluang pertumbuhan investor dan semakin kuat pula pasar modal Indonesia ke depan,” tutup Abdiyasa.




















