KPA Bali Matangkan Temu Remaja KSPAN 2026, Dorong Pelajar Jadi Agen Perubahan

DENPASAR, REPORTASEBALI.ID – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali mematangkan persiapan Temu Remaja Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) 2026. Kegiatan yang melibatkan pembina KSPAN dari sembilan kabupaten/kota se-Bali itu diawali dengan technical meeting di Ruang Rapat Praja Sabha, Kantor Gubernur Bali, Senin (7/9/2026).

Dalam technical meeting tersebut, KPA Bali menyampaikan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) kepada para pembina dan peserta sebagai panduan pelaksanaan kegiatan.

Kepala Sekretariat KPA Provinsi Bali, Anak Agung Ngurah Patria Nugraha mengatakan, Temu Remaja KSPAN Provinsi Bali (MUSPA Provinsi Bali) II Tahun 2026 akan dikemas melalui sejumlah kegiatan, mulai dari forum diskusi, penguatan kapasitas hingga kompetisi antarpeserta.

“Pada hari ini kita sudah menyampaikan juklak dan juknis dari kegiatan Temu Remaja KSPAN. Jadi, kegiatan pada Temu Remaja KSPAN ini yaitu ada kelas temu, di mana kelas temu ini ada Temu FGD KSPAN (Forum Guru), Temu Remaja, dan Temu Capacity Building,” ujarnya.

Selain kelas temu, peserta juga akan mengikuti empat perlombaan, yakni Video On The Spot, Tutor Sebaya, Mading, dan Jejak KSPAN.

Patria Nugraha mengatakan, pelibatan remaja dalam program KSPAN menjadi penting karena mereka merupakan generasi penerus sekaligus memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam upaya pencegahan HIV-AIDS.

“Remaja menjadi perhatian khusus karena mereka adalah garda kami di depan, juga sebagai generasi penerus. Jadi memang ini perlu dijaga,” katanya.

KPA Bali berharap semakin banyak pelajar tertarik mengikuti KSPAN sebagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Para siswa diharapkan tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga mampu menyebarkan edukasi kepada teman sebaya dan ikut mendukung upaya penanggulangan HIV-AIDS di daerah.

“Di sini kami membutuhkan anak-anak muda untuk menjadi agen perubahan atau kader perubahan yang membantu kami di perangkat daerah untuk penanggulangan HIV-AIDS,” imbuhnya.

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali mematangkan persiapan Temu Remaja Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN) 2026. Kegiatan yang melibatkan pembina KSPAN dari sembilan kabupaten/kota se-Bali itu diawali dengan technical meeting di Ruang Rapat Praja Sabha, Kantor Gubernur Bali, Senin (7/9/2026).

Edukasi Sebaya Dinilai Penting

Salah satu peserta, Cokorda Gede Pramajaya Pemayun, siswa kelas XI SMAN 1 Amlapura yang mewakili kontingen Kabupaten Karangasem, menilai materi yang diberikan melalui KSPAN sangat bermanfaat bagi remaja.

Setelah bergabung dengan KSPAN, ia mengaku mendapatkan pemahaman lebih mengenai HIV-AIDS, narkoba, kesehatan reproduksi hingga infeksi menular seksual.

Menurut Pramajaya, edukasi sebaya atau peer-to-peer menjadi salah satu cara efektif untuk menyampaikan informasi kepada remaja. Bahasa dan pendekatan yang digunakan sesama remaja dinilai lebih mudah diterima.

“Sesama remaja seharusnya saling mengedukasi (peer-to-peer) agar informasi tersebut dapat tersampaikan dengan baik dan benar,” ujarnya.

Ia berharap Temu Remaja KSPAN dapat terus dilaksanakan sehingga semakin banyak pelajar tertarik bergabung dan aktif dalam kegiatan KSPAN di sekolah.

Tantangan Guru di Tengah Derasnya Informasi Media Sosial

Sementara itu, pembina KSPAN SMPN 2 Abang, I Wayan Gentos, mengatakan edukasi mengenai kesehatan remaja, kesehatan reproduksi serta bahaya obat-obatan terlarang terus diberikan melalui pendidikan karakter di sekolah.

Namun, perkembangan media sosial yang begitu cepat menjadi tantangan tersendiri bagi guru dalam membimbing siswa.

“Media yang sulit kita tangkal. Karena anak-anak itu semua sudah megang gadget masing-masing. Informasi yang dia dapatkan dari media sosial itu begitu cepat, tidak bisa kita proteksi,” katanya.

Menurut Gentos, masa pubertas juga menjadi fase yang membutuhkan perhatian khusus. Siswa SMP memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan cenderung ingin mencoba berbagai hal baru.

Karena itu, edukasi dan penguatan karakter perlu dilakukan secara berkelanjutan agar siswa memiliki kemampuan untuk memilah informasi, menjaga diri dan tidak terjerumus dalam perilaku negatif.

Juri Lomba dari Pihak Eksternal

Untuk menjaga objektivitas pelaksanaan lomba, KPA Bali juga menyiapkan mekanisme penilaian yang melibatkan pihak eksternal.

Panitia akan ditempatkan pada setiap kegiatan lomba untuk mengantisipasi persoalan teknis maupun potensi kecurangan. Sementara juri akan berasal dari pihak eksternal sehingga proses penilaian diharapkan berjalan secara independen.

“Juri pun kita mengambil dari pihak eksternal, agar tidak ada unsur campur tangan dari pihak panitia. Mudah-mudahan nanti hasilnya dapat diterima juga oleh peserta,” ujar Patria Nugraha.

KPA Bali berharap Temu Remaja KSPAN 2026 dapat memberikan dampak positif dan menjadi pemantik bagi sekolah lain untuk membentuk serta mengembangkan KSPAN.

Kegiatan KSPAN juga direncanakan menjadi agenda rutin dua tahunan. Ke depan, KPA Bali akan memperkuat koordinasi dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Bali untuk mendorong regulasi yang dapat memperkuat keberlangsungan KSPAN di sekolah.

Dengan penguatan edukasi, kapasitas pembina dan keterlibatan aktif pelajar, KSPAN diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan ekstrakurikuler, tetapi menjadi ruang bagi generasi muda Bali untuk mengambil peran dalam pencegahan HIV-AIDS dan penyalahgunaan narkoba.

Tim

Mungkin Anda Menyukai