UPTD Puskesmas Kuta II Komit Target Pencapaian Zero HIV AIDS 2030

0
8

KUTA, REPORTASE BALI- UPT Puskesmas Kuta II, Kabupaten Badung Bali, memiliki komitmen yang kuat untuk pencapaian target zero HIV AIDS tahun 2030. Hal ini diketahui dari hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan KPA Bali di Kuta beberapa waktu lalu. Kepala Sekretariat KPA Bali AAN Patria Nugraha mengatakan, monitoring dilakukan untuk mendukung capaian target 95-95-95 (95% ODHIV mengetahui status HIV, 95% yang mengetahui statusnya mendapatkan pengobatan ARV, 95% orang yang telah mendapatkan pengobatan ARV Viral Load tersupresi). “KPA Provinsi Bali dalam mendukung pelayanan kesehatan HIV, terutama sebagai koordinator lintas sektor untuk meningkatkan pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan dampak HIV, AIDS dan IMS terus berupaya memberikan dukungan dalam peningkatan pelayanan kesehatan HIV dengan memfasilitasi akses masyarakat ke layanan kesehatan untuk skrining (tes HIV) dan pengobatan HIV,” ujarnya Senin (20/7/2026).

Ia menegaskan, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah untuk pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dengan strategi Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan (S-T-O-P). Untuk itu, Dinas Kesehatan Provinsi Bali telah meningkatkan jumlah layanan kesehatan. Salah satunya layanan Kesehatan VCT (Voluntary Counseling and Testing) dari tingkat klinik, puskesmas, rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta yang tersebar di Provinsi Bali. Upaya ini dilakukan untuk memenuhi kebijakan WHO yaitu tes HIV dan diobati (Test and Treat). Konseling dan tes secara sukarela merupakan pintu masuk untuk membantu setiap orang mendapatkan akses ke semua pelayanan, baik informasi, edukasi atau dukungan psikososial. “Untuk mendukung layanan kesehatan HIV yang berkualitas dan sistematis (tata pengelolaan, laporan, kebijakan) serta menjamin pelayanan yang aman dan akuntable yang terdapat pada tingkat Klinik, Puskesmas, rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta maka KPA Provinsi Bali bersama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan stakeholder melaksanakan Monitoring Layanan Kesehatan HIV di Bali. Salah satunya di UPTD Puskesmas Kuta II,” ujarnya.

Hasil yang diperoleh di UPTD Puskesmas Kuta II sungguh luar biasa.
Perkembangan menuju target 95-95-95 dan Getting Three Zero pada Tahun 2030 sampai dengan bulan Juni 2026 pada Puskesmas Kuta II sebanyak 773 ODHIV hidup tahu status dan sejumlah 78% atau 603 orang sedang dalam pengobatan ARV. Dari 603 ODHIV hidup tahu status dan sedang pengobatan ARV sebanyak 66% atau 305 orang Viral Load Tersupresi.

Pada Bulan Januari samoai Juni Tahun 2026 ditemukan kasus baru HIV pada UPTD PKM Kuta II sebanyak 51 Kasus dengan pelaporan pada SIHA 2.1.
Konselor di UPTD PKM Kuta II terdapat 6 tenaga konselor termasuk Kepala PKM Kuta II dalam membantu dan memberikan dukungan kepada klien. Proses konseling dan tes HIV sudah sesuai dengan SOP layanan VCT dimana konselor sudah menerapkan: Informed consent, Confidentiality, Counseling, correct test results, connection to care, treatment and prevention services. Prinsip dari layanan VCT bersifat rahasia dan dilakukan secara sukarela. Artinya dilakukan atas inisiatif dan persetujuan pasien yang datang pada layanan VCT untuk diperiksa dan hasil pemeriksaan terjaga kerahasiaanya.

Pada UPTD PKM Kuta II terdapat layanan ekstra pada Test HIV yang dilaksanakan sebulan 2 kali pada setiap Rabu pekan pertama dan ketiga dalam bulan. Layanan ekstra ini diberikan support dana dari Global Found (GF).
Kolaborasi UPTD PKM Kuta II dengan KPA Kabupaten Badung dan komunitas HIV yaitu Yayasan Spirit Paramacita pada sektor pendamping dan penjangkau ODHIV telah berjalan baik, namun kasus LFU di UPTD PKM Kuta II masih ada dan saat ini dibantu oleh komunitas Yayasan Spirit Paramacita yang mendampingi ODHIV untuk kepatuhan minum obat agar tidak terjadi banyak Kasus ODHIV yang putus obat.

Pada UPTD PKM Kuta II sampai dengan bulan Juni 2026 terdapat 235 ODHIV hilang secara keseluruhan, sejumlah 148 ODHIV yang potensial ditelusuri pada data SIHA 2.1 dan pernah ditelusuri sejumlah 129 orang atau 87%, dan sejumlah 19 ODHIV hilang tidak pernah ditelusuri. Capaian 87% ini dilakukan dengan cara setiap bulannya dilakukan penarikan data ODHIV yang potensial ditelusuri dan diberikan kepada pendamping sebayanya. Dalam akhir bulan pendamping sebaya memberikan laporan kepada petugas.

Pemeriksaan Viral Load untuk ODHIV yang bertujuan untuk mengetahui jumlah virus didalam darah ODHIV. UPTD PKM Kuta II telah melakukan pemeriksaan Viral Load pada pasien yang menjalani terapi ARV. Disarankan untuk Klien yang baru mengikuti pengobatan dilakukan 6 bulan pertama setelah mengikuti terapi dan klien yang sudah lama mengakses pengobatan dapat dilakukan setiap 1 tahun sekali.
Kolaborasi TB-HIV perlu dilakukan secara berkesinambungan.

Semua pasien TBC yang datang kelayanan harus ditanyakan riwayat Tes HIV nya. Jika pasien TBC belum pernah melakukan tes HIV atau hasil tes tidak diketahui, maka diperlukan tes HIV. Begitu juga sebaliknya setiap ODHIV wajib diberikan ARV dan setiap ODHIV dikaji status TBC pada setiap kunjungan. Jika ditemukan ODHIV terduga TBC, dilakukan pemeriksaan TBC dengan alat TCM dan jika ODHIV tidak sakit TBC maka diberikan terapi pencegahan TBC dengan rejimen INH 300mg atau 3HP. Rejimen 3HP dapat diberikan kepada ODHIV baru yang bukan ibu hamil. ODHIV yang terdiagnosis TBC harus segera diobati dengan OAT.

Konseling kepatuhan minum obat kepada ODHIV perlu ditingkatkan agar mengantisipasi terjadinya kasus putus obat dan resisten obat. Kasus LFU di UPTD PKM Kuta II masih ada dan saat ini kasus LFU dapat diatasi oleh LSM komunitas yang membantu untuk menelusuri dan mendampingi ODHIV utk kepatuhan minum obat agar tidak terjadi banyak Kasus ODHIV yang putus obat.

Layanan Kesehatan VCT dan PDP yang berada di Kabupaten Badung terutama pada UPTD PKM Kuta II telah berjalan dengan baik dan sudah dilakukan sesuai petunjuk teknis dan prosedur yang ditetapkan. Untuk pelayanan program HIV dan telah berkolaborasi dengan semua Poli termasuk dengan Poli TBC. Pelayanan pada UPTD PKM Kuta II menerapkan pelayanan ramah pasien dan tidak membeda-bedakan pasien. Sehingga ODHIV yang mengakses layanan pada UPTD PKM Kuta II tidak mendapatkan perilaku stigma atau diskriminasi. Pencatatan dan pelaporan pada aplikasi SIHA telah dilakukan dengan baik namun masih diperlukannya refreshment terkait pencatatan dan pelaporan SIHA 2.1. UPTD Puskesmas Kuta II juga mendapat Dukungan yang baik dari Yayasan Spirit Paramacita dan LSM lainnya sehingga pelayanan kesehatan HIV di UPTD PKM Kuta II dapat berjalan dengan baik.