TABANAN – Kehadiran Sutala Market tak hanya menjadi destinasi kuliner baru, tetapi juga membuka peluang besar bagi pelaku usaha gastronomi untuk berkembang di Bali. Proyek yang digagas Nuanu Creative City ini dirancang sebagai ekosistem bisnis kuliner dan lifestyle berbasis kolaborasi jangka panjang.
Berlokasi di kawasan Nuanu Creative City, Sutala Market akan menempati area seluas 17.000 meter persegi dan dijadwalkan soft launch pada kuartal IV 2026.
Dengan lebih dari 50 tenant yang dikurasi, kawasan ini akan menampung puluhan konsep kuliner dan unit usaha lifestyle. Tidak hanya menghadirkan pengalaman makan, Sutala Market juga dirancang sebagai wadah bagi chef, pengusaha kuliner, hingga kreator lokal untuk menampilkan inovasi mereka.
CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, menegaskan bahwa proyek ini berfokus pada membangun kebersamaan melalui keberagaman.
“Destinasi kuliner dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan bisnis dan pariwisata. Kami ingin menciptakan ruang yang mempertemukan semua orang sekaligus membuka peluang bagi para pelaku usaha,” ujarnya.
Memasuki tahap akhir pembangunan, Sutala Market kini membuka kesempatan bagi restoran lokal maupun internasional untuk bergabung.
Berbagai skema menarik ditawarkan untuk mendukung pertumbuhan tenant, di antaranya:
- Masa persiapan (fit-out) hingga enam bulan tanpa biaya sewa
- Skema sewa fleksibel dan berbasis bagi hasil
- Dukungan operasional dan pemasaran terpadu
- Akses ke pasar yang sudah terbentuk dari komunitas dan wisatawan
Direktur Sutala Market, Conrad, menyebut bahwa konsep kemitraan menjadi kunci utama keberhasilan kawasan ini.
“Kami ingin tumbuh bersama para tenant. Ketika mereka sukses menghadirkan pengalaman terbaik, maka destinasi ini juga akan berkembang kuat,” jelasnya.
Dengan meningkatnya tren wisata kuliner di Bali, Sutala Market diproyeksikan menjadi magnet baru yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif lokal.




















