DENPASAR, REPORTASE BALI- Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Tutik Kusuma Wardhani, menyampaikan rasa duka dan keprihatinan atas musibah gempa bumi yang menimpa masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Tutik menitipkan doa bagi masyarakat yang terdampak bencana. Ia berharap warga NTT tetap tabah dan mendapat perlindungan dalam menghadapi musibah tersebut.
“Semoga mereka tabah menghadapi semua ini dan kuat menghadapi, dan Tuhan melindungi,” kata Tutik di Denpasar, Minggu (23/8/2026).
Menurut Tutik, Agustus menjadi bulan yang spesial bagi bangsa Indonesia karena momentum peringatan Hari Kemerdekaan setiap 17 Agustus. Ia menilai perayaan kemerdekaan juga menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan kesatuan. Tutik mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga persatuan demi mewujudkan cita-cita Indonesia menuju 2045. “Persatuan ini adalah lahir dari rasa kebersamaan, rasa toleransi, kemudian kerja sama yang kuat dan cinta tanah air dari rakyat Indonesia semua,” katanya di sela-sela acara menyambut HUT ke-25 Partai Demokrat dirangkaikan dengan perayaan Hari Kemerdekaan RI di Kantor DPD Partai Demokrat Bali.
Secara khusus, Tutik juga menyoroti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mendorong agar program tersebut lebih diarahkan untuk menjangkau masyarakat di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), sekaligus mendukung percepatan penanganan dan pemberantasan stunting. Tutik menilai kebutuhan MBG di wilayah Indonesia Timur masih cukup besar. Karena itu, tata kelola program tersebut perlu terus diperbaiki agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat yang membutuhkan.
“Jadi masalah MBG ini tergantung sekarang ini mau dibawa kemana. Di daerah timur saudara-saudara kita membutuhkan,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah tetap perlu menjalankan MBG dengan pengelolaan yang lebih baik. Program tersebut juga harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan Sumber Daya Manusia (SDM). Artinya, MBG tidak bisa mengurangi biaya pendidikan. Tutik menegaskan anggaran pendidikan tetap harus sesuai amanat Undang-Undang, yakni sebesar 20 persen dari anggaran negara.
“Berarti itu pendidikan sesuai dengan undang-undang tetap 20%. Itu tidak boleh diganggu gugat. Jadi, MBG nanti disisir dari anggaran yang lain,” terangnya.
Terkait pendidikan, Tutik juga menyoroti persoalan pengangguran pada lulusan SMK. Tutik menyebut lulusan SMK menjadi salah satu penyumbang pengangguran yang perlu mendapat perhatian. Sebagai anggota Komisi IX DPR RI yang membidangi ketenagakerjaan, Tutik mendorong generasi muda memanfaatkan berbagai program yang disiapkan Kementerian Ketenagakerjaan, termasuk Magang Hub. Program tersebut dinilai dapat membuka kesempatan bagi generasi Z dan anak muda untuk memperoleh pengalaman kerja melalui program magang yang disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing.
Di Bali, misalnya, peluang magang dapat diarahkan pada sektor pariwisata maupun industri lainnya sesuai kebutuhan dunia kerja. “Saya harapkan generasi muda harus paham IT. Jadi bukalah Google itu di HP kalian. Di situ banyak informasi tentang Magang Hub dari Kementerian Tenaga Kerja. Jangan sampai nanti di Bali kebanyakan orang luar yang magang di sini. Kemarin saya pantau seperti itu, jadi tolong generasi muda menggunakan HP-nya lebih efektif yaitu 70% untuk hal-hal yang positif dan 30% untuk having fun untuk generasi muda,” urainya.
Tutik berharap anak muda Bali lebih aktif mencari informasi mengenai peluang kerja dan magang melalui teknologi. Menurutnya, penggunaan telepon seluler harus diarahkan untuk kegiatan yang produktif. “Lebih IT-minded lah. Artinya lebih-lebih produktif menggunakan HP-nya. Mungkin karena belum tergeraknya atau kondisi yang saat ini memang belum baik, sehingga saya yang menghimbau sekarang generasi muda ini, ayo gunakan HP ini secara produktif,” pungkasnya.

