REPORTASEBALI.ID, DENPASAR – Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI mendorong penyusunan regulasi khusus terkait kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di Indonesia.
Dorongan tersebut disampaikan Ketua BKSAP DPR RI, Dr. Syahrul Aidi Maazat, Lc., M.A., saat melakukan kunjungan kerja ke BIM University Bali, Rabu (26/8/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan diseminasi diplomasi parlemen. Selain menjelaskan peran parlemen Indonesia dalam percaturan global, BKSAP juga menyerap masukan dari kalangan akademisi mengenai perkembangan dan tata kelola AI.
Syahrul mengatakan AI saat ini menjadi salah satu isu global yang mendapat perhatian serius di tingkat parlemen dunia. Indonesia, menurutnya, harus mampu mengikuti perkembangan tersebut dan tidak hanya menjadi pengguna teknologi.
“Kita di Indonesia tidak boleh ketinggalan. Ini isu global yang perlu kita sambut, sikapi, dan manfaatkan,” ujar Syahrul.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting karena perkembangan AI sudah sangat dekat dengan aktivitas akademik. Karena itu, masukan dari kampus dibutuhkan dalam proses penyusunan regulasi AI di Indonesia.
“Kehadiran kami di sini juga untuk menerima masukan terkait bentuk regulasi yang sebaiknya disusun agar AI tidak membawa dampak negatif bagi masyarakat Indonesia,” katanya.
Panja AI Siapkan Rekomendasi RUU
Syahrul mengungkapkan BKSAP DPR RI saat ini telah membentuk Panitia Kerja (Panja) AI. Panja tersebut melakukan berbagai diskusi dan kajian sebagai bahan penyusunan rekomendasi.
Nantinya, rekomendasi Panja AI akan menjadi bahan bagi DPR RI untuk mendorong penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang AI.
“Panja ini nantinya akan menghasilkan rekomendasi agar DPR RI secara inisiatif menyusun RUU tentang AI yang nantinya dibahas oleh Panitia Khusus (Pansus),” jelasnya.
Pembahasan mengenai AI juga telah melibatkan anggota DPR dari berbagai fraksi. Selain itu, BKSAP melakukan kunjungan ke berbagai perguruan tinggi untuk mendapatkan perspektif akademisi.
Syahrul menyebut sudah puluhan kampus yang dikunjungi dalam rangka menggali masukan terkait perkembangan AI.
BKSAP juga tidak hanya melihat aspek sumber daya manusia dan akademik. Kesiapan infrastruktur menjadi perhatian, salah satunya melalui kunjungan ke Data Center di Batam.
“Kemarin kami juga mengunjungi Data Center di Batam untuk melihat kesiapan infrastruktur keras atau hardware yang menjadi lapisan penting dari pengembangan AI,” ungkapnya.

Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar AI
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah potensi data Indonesia yang sangat besar, sementara sebagian platform AI dan infrastruktur digital masih dikuasai perusahaan asing.
Syahrul menilai diperlukan terobosan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi AI.
Salah satu gagasan yang muncul, kata dia, adalah negara melakukan investasi atau membeli saham pada platform AI global yang sudah berkembang.
“Ada usulan dari teman-teman agar negara menyediakan anggaran untuk berinvestasi atau membeli saham di platform AI global yang sudah dikenal,” ujarnya.
Dengan cara tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi konsumen, tetapi ikut mengambil bagian dalam ekosistem teknologi AI global.
“Kita mendapatkan akses data secara otomatis dan tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga ikut berperan serta memanfaatkan teknologi tersebut,” imbuhnya.
AI Tak Harus Jadi Ancaman Lapangan Kerja
Di sisi lain, perkembangan AI juga menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya sejumlah pekerjaan. Syahrul menilai kekhawatiran tersebut merupakan hal yang wajar, tetapi tidak seharusnya membuat masyarakat menolak perkembangan teknologi.
Dia membandingkan perkembangan AI dengan kemunculan telepon seluler yang dahulu juga memunculkan kekhawatiran terhadap sejumlah jenis usaha.
“Dulu ada kekhawatiran bisnis wartel atau jasa cetak foto hilang karena terdisrupsi digital. Rasa khawatir itu wajar, tetapi jangan berlebihan karena selalu ada peluang baru,” katanya.
Menurut Syahrul, Indonesia justru harus meningkatkan sektor produksi dan memanfaatkan AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas.
Ia mencontohkan potensi sumber daya alam Indonesia yang dapat dikembangkan dengan dukungan teknologi.
“Kita harus menjadi negara produsen yang memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas dan hasil produksi, mempercepat proses kerja, serta meningkatkan kualitas produk,” jelasnya.
Dia menilai akan ada pekerjaan yang terdampak perkembangan AI, tetapi pada saat bersamaan juga akan muncul peluang dan jenis pekerjaan baru.
BKSAP Buka Peluang Kerja Sama dengan BIM University
Dalam kunjungan tersebut, BKSAP juga menawarkan kerja sama akademis kepada BIM University. Kampus tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu sumber gagasan bagi BKSAP dalam membahas berbagai isu global.
“Kami menawarkan agar BIM University dapat menjadi kontributor gagasan, ide, dan pendapat untuk isu-isu yang diangkat di BKSAP, bukan hanya isu AI, tetapi juga isu global lainnya,” kata Syahrul.
BKSAP juga membuka kesempatan bagi mahasiswa BIM University untuk mengikuti program magang apabila memenuhi kebutuhan dan persyaratan yang ditetapkan.
Syahrul mengatakan BIM University memiliki karakter yang menarik karena merupakan bagian dari jaringan perguruan tinggi Muhammadiyah, namun berada di Bali dengan mayoritas mahasiswa non-Muslim.
Menurutnya, keberadaan BIM University menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan yang mencairkan perbedaan.
“Ini adalah bentuk diplomasi yang luar biasa dari Muhammadiyah. Pendidikan telah mencairkan sekat-sekat ideologi, sehingga masyarakat tidak terhambat untuk mendapatkan pendidikan,” ujarnya.
Mahasiswa Diminta Tak Antipati terhadap AI
Syahrul menegaskan kampus dan mahasiswa harus ikut mengambil peran dalam perkembangan AI. Menurutnya, Indonesia tidak boleh tertinggal hanya karena takut terhadap dampak teknologi.
“Kampus dan mahasiswa harus ikut turun tangan serta memanfaatkan AI. Kita tidak boleh antipati,” tegasnya.
Ia mengibaratkan AI seperti pisau yang dapat digunakan untuk tujuan positif maupun negatif. Karena itu, yang diperlukan adalah kemampuan untuk menggunakannya secara bijak.
“Begitu pula dengan AI. AI adalah kelanjutan dari perkembangan teknologi yang harus kita manfaatkan secara optimal,” pungkasnya.

