TABANAN, Reportase Bali – Komisi VII DPR RI menggelar kunjungan kerja di Nuanu Creative City, Beraban, Kabupaten Tabanan, Jumat (28/8/2026), untuk membahas penguatan akses pembiayaan dan permodalan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta sektor ekonomi kreatif.
Kunjungan yang dipimpin Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo, tersebut mempertemukan sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian UMKM, Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Tabanan, Bank BPD Bali, pelaku UMKM, hingga pelaku ekonomi kreatif.
Dalam diskusi tersebut, berbagai persoalan yang masih dihadapi UMKM menjadi pembahasan utama, mulai dari keterbatasan akses modal kerja, pengembangan usaha, hingga perluasan pasar. Para peserta juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, pemerintah daerah, dan ekosistem usaha untuk menghadirkan skema pembiayaan yang lebih mudah diakses.
Rahayu Saraswati mengatakan sektor ekonomi kreatif memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, menurutnya, potensi tersebut perlu didukung dengan kemudahan akses pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik usaha kreatif.
“Ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk membuka peluang bagi masyarakat dan usaha kecil. Namun agar potensi tersebut dapat berkembang, para pelaku usaha membutuhkan akses tidak hanya ke pasar dan jaringan, tetapi juga ke skema pembiayaan yang memahami karakteristik bisnis kreatif,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif juga memaparkan sejumlah langkah untuk memperluas akses pembiayaan, di antaranya melalui pembiayaan berbasis kekayaan intelektual, perluasan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi sektor ekonomi kreatif, serta pengembangan instrumen pembiayaan seperti securities crowdfunding.
Nuanu Libatkan Ratusan UMKM
Komisi VII DPR RI juga melihat langsung keterlibatan pelaku usaha lokal dalam ekosistem yang dibangun Nuanu Creative City. Saat ini kawasan tersebut bekerja sama dengan 668 UMKM di Bali, termasuk lebih dari 370 pelaku usaha perorangan, mulai dari perajin, pemilik warung, penyedia jasa transportasi, laundry, hingga pekerja kebun.
Para pelaku usaha tersebut mendukung berbagai kebutuhan operasional Nuanu, mulai dari sektor kuliner, katering, lanskap, transportasi, hingga layanan lainnya. Dalam periode 2023-2025, jumlah UMKM yang bergabung dalam ekosistem Nuanu meningkat hingga 14 kali lipat.
Menurut Rahayu, model kolaborasi seperti ini dapat menjadi contoh dalam memperkuat ekonomi kreatif di berbagai daerah.
“Nuanu dapat menjadi salah satu contoh bagaimana infrastruktur dan ekosistem ekonomi kreatif dapat membuka ruang bagi pelaku usaha lokal untuk ikut terlibat dan berkembang. Yang penting adalah bagaimana model seperti ini dapat dipelajari, disesuaikan, dan dikembangkan agar manfaatnya semakin luas bagi UMKM dan sektor ekonomi kreatif Indonesia,” katanya.
Perkuat Ekonomi Desa
Selain menggandeng UMKM, Nuanu juga melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam pelaksanaan berbagai program masyarakat. Saat ini, kerja sama tersebut telah menjangkau 18 desa di Kabupaten Tabanan dengan melibatkan 38 UMKM dan BUMDes.
Ketua BUMDes Beraban, I Gede Putu Waisnawa, mengatakan pola kerja sama tersebut turut menggerakkan roda perekonomian desa karena pengadaan berbagai kebutuhan dilakukan melalui BUMDes setempat.
“Bantuan pangan yang kami salurkan dibeli dan didistribusikan melalui BUMDes sehingga nilai ekonominya tetap berputar di dalam desa. Ini mendukung perekonomian lokal dan masyarakat yang tinggal di desa,” jelasnya.
Sementara itu, CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, menilai kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga keuangan, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan peluang ekonomi yang lebih luas.
“Kami melihat Nuanu sebagai bagian dari ekosistem yang lebih besar. Ketika pelaku usaha lokal, masyarakat, lembaga keuangan, dan sektor swasta saling terhubung, maka semakin banyak peluang yang dapat tercipta. Kami mengapresiasi Komisi VII DPR RI dan seluruh pihak yang telah membuka ruang diskusi ini,” ujar Lev.
Diskusi di Labyrinth Dome, Nuanu Creative City, tersebut menjadi bagian dari upaya Komisi VII DPR RI menyerap masukan terkait penguatan akses pembiayaan bagi UMKM dan pelaku ekonomi kreatif, sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi yang mampu memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.

