UBUD, REPORTASE BALI- Ubud FolkFest 2026 kembali hadir pada 14–15 Agustus 2026 di Biji World, Ubud, Gianyar Bali. Kali ini Unud FolkFest membawa semangat untuk mempertemukan musik, seni, budaya, komunitas, dan berbagai bentuk kreativitas dalam sebuah perayaan yang terbuka dan inklusif. Memasuki penyelenggaraan tahun kelimanya, Ubud FolkFest menghadirkan pengalaman festival yang tidak hanya berfokus pada pertunjukan musik, tetapi juga mengajak pengunjung untuk melihat, mendengar, belajar, bermain, dan berinteraksi secara langsung dengan berbagai bentuk seni dan budaya. Selama dua hari, festival akan menghadirkan 3 panggung musik, 1 art gallery, cultural performances, art workshops, kids activities, art market, record store, drum circle, serta berbagai aktivitas kreatif lainnya. Tahun ini, Ubud FolkFest kembali menghadirkan kombinasi musisi dari Bali, berbagai daerah di Indonesia, hingga mancanegara.
Founder Ubud FolkFest dan Owner Biji World Ida Bagus Oka Genijaya mengatakan, akar dari republik ini adalah seni dan budaya. Dalam filosofi Hindu Bali, seni adalah ibu dan budaya adalah bapa dan keduanya melahirkan kreatifitas ekspresi, sesuatu yang melahirkan. Karena itu, seni dan budaya perlu ditanam, dijaga, dan yang paling penting, dilakukan. Ia mengisahkan jika sejak muda sudah melalang buana ke berbagai negara di dunia. “Waktu itu bapak saya pernah mengatakan satu hal kepada saya, bahwa kalau kamu ingin melihat betapa indahnya Bali, kamu harus keluar dan melihatnya dari jauh. Bali ini bukan pulau, dia adalah gunung. Keindahannya terlihat ketika kita melihatnya dari kejauhan. Kadang-kadang memang kita perlu keluar, bahkan mengundang orang dari luar untuk melihat kembali betapa beruntungnya kita lahir di republik yang memiliki akar seni dan budaya yang begitu kuat,” ujarnya.
Sayangnya, perlahan-lahan nilai itu mengalami degradasi. Seni dan budaya terlalu sering menjadi wacana dan filosofi yang digunakan untuk mempromosikan pariwisata, tetapi tidak benar-benar dilakukan. Seni dan budaya harus ditanam dan dilakukan, bukan hanya menjadi filosofi. Ia juga mengingatkan bahwa peran pemerintah sangat penting. Namun yang terjadi seni budaya dikomersialkan, dijadikan lomba sehingga ada yang juara dan mendapatkan hadiah. “Misalnya di Bali, pemerintah melombakan Ogoh Ogoh. Habis lomba bukannya dibakar tetapi dipajang. Ini menjatuhkan nilai spiritual Ogoh-ogoh itu sendiri,” ujarnya.
Desa Mas di Ubud sejak dulu merupakan tempat orang datang untuk belajar. Ia memiliki sejarah dan karakter yang sangat khas. “Karena itu, bagi saya menyedihkan ketika seni dan budaya hanya menjadi sesuatu yang kita bicarakan, tetapi tidak hadir dalam kenyataan. Yang membuat saya antusias dengan Ubud FolkFest adalah resilience-nya. Kami memulai ini bukan dengan uang yang besar, tetapi dengan kreativitas dan pertemanan. Dari sanalah semuanya tumbuh,” ujarnya. Lokasi Ubud FolkFest juga bernama Biji World. Biji artinya benih yang ditanam. Jika benih itu baik maka dia akan bertumbuh dengan baik. Seni budaya yang ditanam, dilakukan akan berbuah.
Sementara Ubud FolkFest Director Rizal Hadi mengatakan, hal yang menarik di Ubud FolkFest adalah bagaimana tradisi bisa bertemu dan berkembang menjadi bentuk-bentuk musik kontemporer. Ada karya-karya seperti Janger yang direpresentasikan kembali dalam pendekatan yang lebih modern, misalnya melalui jazz. Ada juga Celtic music, hingga Iksan Skuter yang mungkin lebih dekat dengan pemahaman folk secara internasional—seorang musisi dengan gitar akustik, seperti tradisi singer-songwriter yang dikenal melalui Bob Dylan. “Tetapi kami tidak ingin berhenti pada satu bentuk musik saja. Ada Navicula, band rock legendaris Bali yang sudah berkarya lebih dari dua dekade, yang di Ubud FolkFest akan menghadirkan kolaborasi dengan Barong. Bagi saya, pertemuan seperti ini menarik karena kita bisa melihat bagaimana ekspresi musik hari ini bertemu dengan akar budaya yang sudah ada,” ujarnya.
Begitu juga dengan Ary Juliyant. Ia tidak hanya tampil sendiri dengan gitar akustiknya, tetapi juga akan berkolaborasi dengan Tarawangsa. Ary lahir di Bandung dan memiliki akar Sunda, sementara Tarawangsa sendiri berakar kuat dalam tradisi musik Sunda. “Jadi ada hubungan yang ingin kami bangun di sana. Itulah salah satu hal yang menarik dari programming Ubud FolkFest: kami mencoba menciptakan kolaborasi yang bergerak dari tradisi menuju modern, bahkan ke bentuk-bentuk future fusion. Tradisi tidak hanya hadir sendiri, tetapi bisa bertemu dengan ekspresi yang berbeda dan menghasilkan pengalaman baru,” ujarnya.
Dan Ubud FolkFest tentu bukan hanya tentang musik. Ada berbagai workshop dan aktivitas seperti tie-dye, art stamping, kids activities, dan program-program kreatif lainnya. Tahun ini kami juga menghadirkan program khusus bernama Fast Forward Ubud.
Fast Forward menghadirkan enam pembicara yang masing-masing memiliki waktu tujuh menit tiga puluh detik untuk membagikan ide, gagasan, pengalaman, atau cerita hidup mereka. Para pembicaranya datang dari latar belakang yang berbeda, termasuk Gede Robi Navicula, Sandrina Malakiano, Rudolf Dethu, dan beberapa nama lainnya. “Jadi bagi kami, Ubud FolkFest adalah ruang tempat banyak hal bisa bertemu, tradisi dan kontemporer, musik dan seni, kolaborasi dan gagasan. Justru dari pertemuan-pertemuan itulah kami berharap sesuatu yang baru bisa muncul,” ujarnya.

